Date:

    Share:

    WAJAH MARAH REGGIE

    Related Articles

    Reggie suka membuat wajahnya menjadi lucu dan melakukan hal-hal yang aneh yang hanya akan membuat teman-temannya tertawa dan tersenyum. Reggie juga dapat membuat wajahnya untuk menakut-nakuti teman-temannya pergi menjauh tetapi ketika Reggie benar-benar marah, wajahnya tidak menjadi lucu lagi.

    Suatu hari di musim panas, Reggie pergi mencari teman-temannya. Dia berharap bahwa apa pun yang terjadi, ia akan mempu menyembunyikan wajah marahnya. Ia ingin teman-temannya dapat berteman dengan dia dan tidak takut oleh kemarahannya.

    Ketika ia datang ke ujung blok, ia melihat Carla, Elwood dan Bruce sedang berdiri di sana. “Hai, apa yang sedang kalian lakukan?” katanya. Carla menjawab, “Kita tidak bisa memutuskan apa yang harus kita lakukan.”

    “Mari kita lihat apakah kita bisa mendapatkan beberapa teman dan bermain bola,” kata Reggie.
    “Bermain bola? Kau pasti bercanda, “ kata Carla. “ Saya tidak padai bermain bola.”
    Reggie merasa frustrasi, tapi ia tidak ingin teman-temannya tahu. Jadi dia menyembunyikan perasaanya meskipun demikian dia masih bisa merasakannya.
    “Bagaimana dengan petak umpet,” ujar Reggie
    “Saya benci permainan itu,” kata Bruce, yang cukup gemuk dan tidak bisa berlari dengan cepat.
    “Saya selalu kalah”

    Saat ini Reggie menginjak-injak kakinya sendiri dengan kemarahannya , tapi dia tidak memberitahu Bruce apa yang sedang ia rasakan. Dan sekarang tidak hanya itu, matanya menjadi sipit dan telinganya menjadi semakin merah dan panas

    Akhirnya, dengan suara cemberut, Reggie mengatakan, “Bagaimana kalau kita semua berlomba ke taman dan melempar batu di sungai, siapa yang tiba lebih dahulu.” Dialah seorang pelari tercepat.

    Elwood, yang juga seorang pelari cepat berkata, “Ayo..Mari kita pergi.” Jadi mereka berlari.
    Elwood berlari lebih cepat dari Reggie hari itu. Dan ketika Elwood mengalahkan dia, dia sangat, sangat marah. Matanya menjadi menjadi sipit dan telinganya merah dan panas. Dengan suara lantang ia membentak, “Kalian tidak menyenangkan dan saya tidak ingin bermain dengan kalian lagi.”

    Bruce, yang baru saja tiba di taman pada waktu itu mendengar apa yang dikatakan Reggie, Bruce kemudian mengatakan, “Reggie, kau teman kami dan biasanya kau sangat lucu dan kami ingin bermain denganmu. Tetapi ketika kau menjadi marah dan membentak-bentak kami, kau menjadi berubah, kami tidak suka berteman denganmu lagi.. ”

    Dengan mengatakan itu, akhirnya Bruce, Elwood dan Carla berjalan pergi meninggalkan Reggie.

    “Yah, Saya juga tidak pernah akan menyukai mereka ,” gumam Reggie sambil menginjak-injak sekitar taman dan batu-batu yang ada di taman dengan sepatunya. “Saya akan pergi ke tempat rahasia saya dan bermain sendiri.”

    Tempat rahasianya di tempat yang berumput sedikit di belakang semak samping pagar di sudut yang jauh dari tempat di belakang rumahnya. Ketika ia merasa seperti tidak ada yang menyukainya, ketika dia tidak memahami perasaannya, ketika dia ingin merasa aman, Reggie akan pergi ke tempat rahasia ini.

    “Tidak ada yang akan menemukan saya di sini,” gumamnya. Jadi dia duduk dan duduk dan bergumam dan bergumam. Tidak ada orang yang membuatnya frustrasi, atau terluka, atau sedih. Tak seorangpun yang bisa berbicara dengan dia. Dia pikir perasaanya akan lebih baik, tapi dia tidak merasakannya. Saat ini dia merasa kesepian.
    Tiba-tiba, ia mendengar suara. Seseorang berada di dekatnya, hanya di sisi lain dari pagar. Dia mencoba berdiri untuk melihat Tuan Jones yang mengintip dari pagar padanya. Tuan Jones adalah seorang pensiunan, dan dia memiliki taman bunga hanya di sisi pagar. Reggie berharap Tuan Jones tidak mendengarnya bergumam.
    “Apakah itu kau, Reggie Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” Tuan Jones bertanya.
    “Hanya bersenang-senang sendiri,” gumam Reggie dan menatap ke tanah.
    “Jika kau bersenang-senang sendirian, mengapa kau terlihat dan terdengar begitu sedih?”
    “Saya marah dan saya ingin pergi sendirian,” jawab Reggie.
    Tuan Jones menatap jauh ke dalam mata Reggie dan berkata, “Kadang-kadang ketika hati kita terluka, disakiti atau merasa frustrasi, kita menjadi marah. Dan kadang-kadang kalau kita duduk dengan kemarahan kita, hal itu bisa membuat kita menjadi lebih marah dan merasa tidak tentram.
    Dan ketika kita membiarkan kemarahan itu dalam diri kita maka akan mempengaruhi perasaan kita sendiri sehingga kita dapat bertindak dan melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain. ”
    “Apa yang kau lakukan ketika kau merasa marah?” tanya Reggie.
    “Perasaan saya, jarang marah”
    Reggie merasa terkejut mendengar Tuan Jones mengatakan hal itu. Dia pikir semua orang merasakan hal yang sama seperti yang sedang dia alami. “Kenapa perasaanmu jarang marah?” Tanyanya.
    “Karena,” kata Tuan Jones, “ketika saya mulai marah, saya telah belajar untuk berbicara tentang apa yang saya rasakan.”
    Reggie menjawab, “Ketika saya marah, saya menginjak-injak sesuatu dan membentak-bentak.”
    Tuan Jones mengulurkan tangan untuk memilih dari sebuah bunga yang telah mati dari salah satu bunganya, “Apakah itu membantumu menginjak-injak sesuatu dan membentak-bentak seseorang?”

    “Tidak.” Reggie mengakuinya
    “Dan bagaimanakah perasaanmu pada saat teman-temanmu tidak suka padamu?’
    “Saya merasa disakiti dan sedih. Dan kemudian saya menjadi marah.”

    “Jadi, kadang-kadang pada saat kau merasa marah oleh sebab kau lebih dahulu disakiti dan sedih?” tanya Tuan Jones.
    “Saya pikir demikian,” kata Reggie. “
    “Nah,” kata Tuan Jones, “jika kau merasa marah dan menghentak dan menggertak tidak dapat membantu, apa lagi yang bisa kau lakukan yang mungkin membantumu agar lebih baik lagi?”
    Reggie tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya.
    Tuan Jones berbalik untuk pergi. Lain kali jika kau ingin hal-hal lain dan menginjak-injak sesuatu dan membentak-bentak, beritahukanlah teman-temanmu apa yang kau rasakan dan lihatlah apakah semuanya itu dapat membantumu.
    Hari berikutnya, Reggie pergi sendiri ke taman untuk melemparkan batu di sungai. Dia melihat teman-temannya memiliki waktu yang indah di sisi lain dari taman sedang bermain petak umpet. Dia pergi ke mereka dan berharap mereka akan mengundang dia untuk bermain. “Hai,” katanya. Mereka melambai kembali, tapi mereka melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak mengundang dia untuk bermain. Reggie merasa benar-benar disakiti. Dia merasa sedih.
    Ketika Elwood melihat bahwa dia menjadi sedih dan tidak marah, ia memanggil, “Reggie, apakah kau ingin bermain dengan kami?”
    “Tentu,” kata Reggie. Namun dalam keinginannya untuk sampai ke teman-temannya, ia menyelinap dan jatuh di lumpur di tepi sungai. Dia melihat ke teman-temanya dan mendengar mereka mulai menertawakannya.
    Reggie merasa malu bahwa dia telah jatuh dalam lumpur. Dia tidak suka teman-temannya menertawakannya. Matanya menjadi sipit dan telinganya memerah dan panas. Dia tersentak. Tapi kali ini ia mengatakan sesuatu yang berbeda. ” Saya merasa tidak baik untuk ditertawakan!”
    “Kami tidak mengolok-olok kau, kami pikir kau sedang tidak beruntung saja..” Kata Elwood.
    Reggie menatap dirinya sendiri. Dia tampak cukup lucu. Dia mulai menertawakan dirinya sendiri. Rasanya baik untuk tertawa, bukan memarahi atau menghentak, menggertak teman-temannya.
    Akhirnya mereka semuanya kemudian kembali ke permainan mereka petak umpet dan bermain bersama.
    “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Lukas 6:31

    by Gary Oliver, adapted by Ron Flowers*
    (Diterjemahkan oleh Max Kaway)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles