Date:

    Share:

    “UANG ITU TUAN ATAU HAMBA”

    Related Articles

    Menarik ketika membaca sebuah tulisan di salah satu sudut Pertokoan Senayan City, “Mereka yang mengatakan bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan hanyalah karena mereka belum mengunjungi mall ini”. Uang memang sangat powerful. Boleh menjadi berkat membahagiakan ditangan mereka yang dapat mengatur tetapi akan menjadi alat menjerumuskan di dompet mereka yang gagal mengendalikannya. Setiap orang mempunyai kebebasan mengurus keuangannya sendiri. Apalagi di jaman yang serba “Wah” seperti sekarang ini. Disaat semua sudut ruang jalanan ada iklan menawarkan kemudahan berbelanja melalui caption yang memanggil-manggil, pikiran diarah kepada suatu kegembiraan berbelanja, spending time di mall. Tawaran melalui pesan singkat di HP, Televisi, Media Cetak dan teman sekantor lama kelamaan menjadi akrab dikehidupan modern. Tinggal terserah kita, apa mau saja dihanyutkan dengan sifat konsumerisme yang tidak akan ada hujungnya atau bijaksana dalam berbelanja. Memang banyak yang ditawarkan namun belilah sebatas kemampuan sesuai perencanaan.

    Adalah sangat menyenangkan berkunjung dengan keluarga ke suatu Pertokoan yang baru dibuka, segala kebutuhan sudah tersedia disatu atap. Sudah pasti interiornya baru dengan design terakhir apalagi semua gerai menawarkan diskon yang menarik dengan harga menawan. Kenyamanan seperti ini walaup hanya window shopping terasa sangat menyenangkan. Sekarang ini sepertinya tidak ada perbedaan lagi berada di Ontario Mills, JC Penny, Marshall, Ross, Cabazon outlet di California dan di Grand Indonesia, Pondok Indah Mall, Tanah Abang, Mangga dua yang ada di Indonesia. Semuanya hampir sama, ruangan yang sejuk, penataan yang khas, warna warni ceriah, fashion terkini ditambah dengan bonus ataupun layanan purna jual.

    Mengunjungi Pusat perbelanjaan sekarang tidaklah sebatas pada mendapatkan kebutuhan sehari hari ataupun bulanan berupa belanjaan saja tetapi kebutuhan bersosial juga membutuhkan sebuah tempat seperti Mall untuk melepaskannya. Reuni kecil-kecilan, ketemu sanak keluarga sambil makan bercanda ria di Café sekaligus santai “cuci mata” di pameran seperti telah menjadi kebutuhan sekarang ini. Belum lagi anak-anak yang perlu sekali dua mengunjungi dunia fantasi atau Time zone dan kemudian acara ditutup dengan memanjakan selera dengan menikmati penganan vegetarian ala Itali-Pizza Hut. Bukan main, semua bentuk kemudahan ini tersedia untuk siapa saja disemua lapisan masyarakat.

    Apakah semua ‘sophisticated’ ini akan memperdaya pikiran anda untuk menyerah pada kesukaan sehingga uang akan cepat berpindah tangan ke kasir Mall atau uang itu akan tetap aman di saving kadang menjadi pergumulan banyak orang. Sayang sekali karena banyak orang yang gagal ataupun ‘mengagalkan diri’ dalam godaan ini sehingga menunda untuk menabung dan luluh pada keinginan mata serta selera. Apa boleh buat, barang itu murah lagipula diskonnya besar kadang kita berkilah padahal kalaupun tidak dibeli tidak menjadi soal. Kadang muncul kilah seperti ini “Sebenarnya kita hanya mampir saja, tidak berencana untuk beli sih! tapi nggak enak kalau ke mall lalu tidak membeli apalagi kan tidak selalu kita kesini”. Kalimat-kalimat ini hanyalah untuk membenarkan pemborosan yang tidak perlu terjadi. Keadaan tidak disiplin dalam pengaturan uang biasanya akan selalu berulang dan berujung kepada tidak cukupnya uang di minggu terakhir dalam bulan. Tapi untung ada teman atau koperasi yang dapat menolong, kemudian kita meminjam uang dengan bunga uang yang tinggi.

    Meminjam uang untuk digunakan secara komsumtip artinya membeli barang yang bukan keperluan tetapi keinginan pada gilirannya akan sangat memberatkan. Kalaupun akan meminjam maka itu berada dalam keadaan darurat karena memerlukan biaya pengobatan ataupun perjalanan mendadak. Meminta panjar gaji ataupun kas bon menunjukkan betapa kurang bijaksana seseorang dalam mengatur belanja Rumah Tangganya. Bila kedodoran yang belanja berkelanjutan maka nantinya akan menyulitkan dirinya sendiri.
    Uang sesungguhnya adalah sebuah alat. Ia mempunyai tiga fungsi: 1. Sebagai alat pembayaran yang sah juga sering disebut sebagai alat tukar yaitu menukar uang dengan suatu barang yang dianggap senilai (medium of exchange). 2. Suatu alat untuk menyimpan kekayaan (store of value) dan 3. Uang adalah alat hitung (unit of account). Sangat penting untuk selalu diingat bahwa uang itu adalah sebuah alat bukanlah sebagai Tujuan.

    Untuk mendapat hasil maksimal dari alat yang bernama uang maka berlaku ungkapan ‘the man behind the money’ yaitu manusia dibalik pengaturan uang. Bukan sebaliknya uang yang mengatur manusia. Dengan demikian maka uang adalah suatu hal yang diatur bukan pengatur. Dengan kata lain uang itu berstatus menunggu perintah sebagai hamba bukan sebagai Tuan yang memerintah. Firman Tuhan sangat jelas bahwa mereka yang hamba uang tidak dapat bergabung dalam rombongan pengerja – 1 Timotius 3:3; 2 Timotius 3:2; Ibrani 13:5. Pengerja Tuhan sebagai pengguna, pemakai alat yang bernama “uang” perlu berhati-hati untuk menempatkan uang pada proporsinya yang utama yaitu sebagai alat.

    Memang benar bahwa untuk kelancaran segala sesuatu maka uang sangat diperlukan. Namun bila segala sesuatu kerap di ukur dengan uang dan selalu berujung kepada pertanyaan berapa anggaran, berapa uang honor, berapa yang akan menjadi bonus maka awas! Jangan-jangan kehidupan kita telah menjadi hamba uang.

    Pengaturan uang dalam sebuah rumah tangga yang anggotanya mempunyai kesamaan pandang mengenai income dan expenses akan menjadi lebih mudah. Setiap rumah tangga Kristen yang berserah kepada Tuhan maka tingkap-tingkap dilangit akan dibukakan sehingga tidak terjadi kekurangan didalam anggaran belanja rumah tangga. Kesamaan pandang dalam soal berbelanja, menabung serta memberi sangat diperlukan oleh sebuah rumah tangga.

    Oleh: Pdt. Dr. Moldy R Mambu, Wakil Direktur RSA Manado

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles