Date:

    Share:

    TETAPLAH PERCAYA

    Related Articles

    Problema umat Tuhan adalah ketidakpercayaan kepada firman Tuhan. Seseorang yang melihat langsung wajah Tuhan, bahkan, baru saja Tuhan bersabda:”…. Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”—Kej 2:16,17.
    Saat nenek moyang kita tidak melihat akan kehadiran Tuhan di sana, Hawa mendekati pohon pengetahuan tentang baik dan jahat. Ada daya tarik kuat—pohon terlarang yang memesona! Tuhan telah mengaruniakan kebebasan memilih kepada leluhur kita, juga berarti kebebasan yang sebesar-besarnya menurut apa kata Tuhan dengan suka-cita, berarti ini juga memilih  bujukan setan yang penuh muslihat.
    Tiba-tiba, suara merdu pengoda yang memutarbalikan firman Tuhan, menuntut Hawa berargumen menyatakan kebenaran firman Tuhan—menurut logikanya yang memerangkap dia. (Kej 3:1-3),  ayat 4,5 bujuk rayu setan yang membius dan akhirnya manusia jatuh dalam dosa, ayat 6.
    Persoalanya adalah, manusia tidak percaya apa kata Tuhan! Pohon pengetahuan baik dan jahat sebenarnya dijadiakan sebagai satu ujian penurutan kasih kepada Tuhan. Meragukan Tuhan, adalah penyakit kita. Ada keraguan akan firman Tuhan. Yang mengakibatkan kejatuhan manusia dalam dosa.
    Manusia sering merasa memiliki akal budi dan kekuatan yang cukup untuk menolak kejahatan. Yang sebenarnya di sinilah letak kejatuhan itu. Penegasanya, adalah tidak aman, bila kita berhadapan dengan kejahatan setiap saat tanpa mememercai apa kata Tuhan.
    Pena inspirasi memaparkan dengan lugas problema ini: “Dalam pehukuman, manusia tidak dihukum oleh karena mereka dengan sadar mempercayai satu dusta melainkan oleh karena mereka tidak mempercayai kebenaran…. Melalaikan semua itu berarti kehancuran kepada kita. Apa pun yang bertentangan dengan Firman Allah, kita dapat memastikan bahwa itu berasal dari Setan”. –PNDB 51.
    Seseorang menulis: setan bersorak kegirangan… lihatlah manusia itu tanpa campur tangan kita mereka telah jatuh tak berdaya.
    Gambaran penulis di atas boleh jadi benar saat ini, kita yang memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam dosa tanpa sentuhan si jahat, kita telah terkapar dan berlumur dosa.
    Seolah-olah saat ini, kita tidak punya harapan!
    Namun, Alkitab, firman Allah yang hidup  dengan tegas dan pasti memberikan kekuatan kepada kita seperti tertulis dalam II Korintus  12:9,10: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat’’’.
    Rahasia kemenangan, kembali Paulus tegaskan di dalam Galatia 2:20: ”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.
    Hari ini, kita memiliki banyak alasan untuk tidak percaya kepada Tuhan. Permasalahan kehidupan kita sejak kita dilahirkan: masalah kesehatan, masalah keluarga, masalah antara suami dan isteri, masalah keuangan dan lain-lainya.
    Kita kecewa dengan diri sendiri, merasa bahwa Tuhan tidak perduli lagi. Kehilangan pasangan hidup, saat kita kehilangan pekerjaan dan kecemasan terus melanda, laksana gelombang pantai yang tak pernah hentinya. Menerjang kita saat ini.
    Bolehjadi jeritan hati kita saat ini sama seperti pengalaman nabi Habakuk tempo dulu, ia menulis, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik”—Habakuk 1:2-4.
    Yang lebih mengherankan dari perkataan nabi Tuhan ini adalah ‘Tuhan tidak adil bagi mereka yang setia’. Sering kita menyatakan kepada Allah dalam doa kita, Tuhan, kami adalah umat-Mu yang setia. Terlantar Tuhan!
    Kenyataan orang fasik lebih nyaman hidupnya. justru orang yang senantiasa selalu memanggil Tuhan menikmati kekecewaan.
    Apakah demikian? ya, tak jarang demikian. jika saat ini saudara dan saya masih merasakan permasalahan ini, yakinkanlah bahwa, Tuhan yang maha kasih tetap mengontrol kehidupan ini. Ia mengasihimu, saudaraku.
    Tetaplah percaya kepada-Nya!  Sebab itu yang terbaik. Di saat krisis melanda, saat itulah selayaknya kita semakin mendekat kepada-Nya. Hanya Dia jalan keluar kita! Pemazmur menulis: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah…. Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah”— Maz 62:2,3,6,7.
    Sebagaimana pengalaman Adam dan Hawa, adanya pohon pengetahuan baik dan jahat untuk menguji kepercayaan mereka kepada Tuhan, Habakuk dan saudara dan saya di hadapkan kepada persoalan yang sama apakah kita tetap percaya kepada Tuhan sekalipun sulit untuk dapat tetap percaya; kekecewaan, frustasi, kesulitan hidup harus kita tundukan dengan tetap percaya apa kata Tuhan.
    Adalah maksud Tuhan saudara dan saya tampil gemilang justru pada saat kita melewati ujian atas kepercayaan kepada-Nya di saat segalanya sulit untuk dipercaya. Itulah iman!
    Ahkirnya kita lebih dari sekadar pemenang. Kita kembali kepada Habakuk, setelah kesulitan, ketidakadilan—itulah ujian imannya dan juga kita. Ia berkata dengan penuh kemenangan: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku”—Habakuk 3:17-19.
    Saya percaya, kita juga akan mengalami kemenangan Habakuk, dan ini, akan menjadi nyayian iman sepanjang waktumu di dunia. Tuhan tidak pernah merencanakan kecelahaan dan kesulitan bagi kita umatnya. Persoalannya kita sering menciptakan kehancuran diri sediri oleh melangar titah-Nya dan ketidakpercayaan kepada Tuhan.
    Tetaplah Percaya kepada Tuhan, Ia sungguh mengasihimu melampai pengertian kita.

    Oleh: Pdtm. Ronny Umboh

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles