Date:

    Share:

    TAK SATUPUN YANG DAPAT MEMISAHKAN

    Related Articles

    Dari Jendela kamar tidurnya, Rebecca mengamati anak-anak sebayanya yang sedang bermain di salju hari itu. Bagaimana tidak kalau dia sangat merindukan mereka.

    ” Sekarang, Rebecca.” mengingat ayahnya mengatakan di pagi itu. ” Engkau tidak bisa bermain salju hari ini.”

    ” Mengapa tidak, Ayah?” Rebecca bertanya. Setiap hari, anak-anak di lingkungannya berkumpul di sebuah taman di belakang rumah Rebecca.

    “Percaya saja kepada Ayah, Rebecca. Ini bukanlah apa yang terbaik untukmu hari ini,” Ayahnya menjawab.

    Pada saat itu, Rebecca merespon dengan mencium ayahnya di pipinya dan meyakinkannya bahwa ia akan tinggal di dalam rumah dan hanya akan membaca. Tapi sekarang ia memiliki pikiran kedua.

    Hari ini indah di luar sana, pikirnya. Itu benar: Matahari yang bersinar cerah. Mengapa ayah tidak membiarkan Rebecca pergi bermain di luar? Mengapa dia harus kehilangan semua kesenangan ini?

    Ketika bola salju berbunyi di luar jendelanya, Rebecca memutuskan dia tidak bisa tahan lagi. Dia harus pergi bergabung dengan teman-temannya.

    Rebecca kemudian meninggalkan bukunya di atas meja. Ia meluncur keluar. Dia mencoba meyakinkan dirinya, ia bersenang-senang, tetapi hatinya merasa tidak nyaman. Dia terus mencari cara ini dan itu, dia merasa takut kalau-kalau ayah melihatnya.

    Setelah beberapa jam, akhirnya Rebecca berkata selamat tinggal kepada teman-temannya dan segera kembali ke rumahnya. Dia igin segera masuk dan tinggal di kamarnya dengan aman sebelum ayahnya pulang.

    Ingin segera ke kamarnya secepat mungkin namun Rebecca tidak melihat seseorang telah meninggalkan sarung tangan di tangga sampai kakinya terpeleset di atasnya. Hal berikutnya yang dia tahu, dia telah jatuh dari beberapa anak tangga. Sangat mengerikan, dan akhirnya dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan gambar kesayangan ayahnya ketika dia jatuh! Gambar tersebut telah hancur di bagian depannya.

    Biasanya, Rebecca akan bergegas menemui ayahnya setelah ia jatuh sehingga bisa mendapatkan perawatan dari dokter. Tapi tidak kali ini. Bagaimana dia bisa menghadapi ayahnya sekarang? Dia tidak menurut kepadanya dan telah merusak gambar kesayangan ayahnya! Dia menggigit bibit agar tangisannya tidak keluar dari mulutnya, Rebecca meraih gambar yang telah hancur tersebut dan tertatih-tatih ke kamarnya.

    Untuk sisa hari itu, ia berbaring dengan kesakitan. Tubuhnya sakit dan memar pada saat dia terjatuh. Tapi hatinya-ah, yang paling sakit dari semua! Dia merasa yakin bahwa ayahnya tidak lagi akan mencintainya. Dia telah mengacaukan semua perasaan di masa lalu, tapi saat ini perasaannya sudah sangat jauh! Dia mungkin tidak pernah akan dapat berbicara lagi dengan ayahnya. Bagaimana bisa dia masih mencintainya?

    Dia terisak tak terkendali di atas bantalnya. Dia selalu dekat dengan ayahnya. Mereka biasanya bermain dan belajar bersama-sama. Mereka tertawa dan menangis bersama-sama. Tapi tidak sekarang. Tidak,! Dia merasa yakin bahwa saat-saat indah bersama ayahnya telah berakhir.

    Siapa tahu untuk beberapa lama dia akan berbaring sehingga pengasuhnya datang untuk melihatnya. Pengasuh Rebecca memiliki cara tersendiri untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan memberikan nasihat kepadanya. Malam ini tidak terkecuali.

    “Rebecca, sayang,” katanya dengan tegas, tapi lembut. ” kau sudah sangat salah. Tapi janganlah harus terus dalam kesalahanmu dengan duduk di sini. Engkau harus pergi bertemu ayahmu dengan membawa gambar kesayangan ayahmu yang telah rusak dan memberitahukan segala yang telah terjadi pada dirimu.”

    “Oh, tapi aku tidak bisa! Aku tidak layak untuk kasih-nya” terisak-isak Rebecca menjawab.

    Pengasuhnya dengan sabar mengatakan kepadanya. ” Engkau lebih tidak layak dari hari kemarin dari pada hari ini, Rebecca. Ayahmu sangat mencintaimu karena engkau adalah putrinya, bukan karena apa yang engkau lakukan atau tidak lakukan. Tidakkah dia telah mengatakannya kepadamu setiap hari sejak engkau kecil, ” Aku mencintaimu’? Apakah engkau meragukan ayahmu? Apakah engkau benar-benar berpikir bahwa cintanya tergantung padamu?”

    Dia tidak pernah meragukan ayahnya sebelumnya. Mungkin dia harus pergi melihat ayahnya….ya, dia harus pergi menemuinya, karena jika tidak, dia akan merasa gelisah seterusnya dan tidak bisa beristirahat dengan baik.

    Jadi, masih dalam keadaan gemetar ketakutan, Rebecca tertatih-tatih berjalan di lorong rumah menuju ruang tamu. Dia berhenti di ambang pintu. Ayahnya sedang duduk di kursi favoritnya, seperti yang ia lakukan setiap malam. Ayahnya melihat Rebecca saat masuk, dan sebuah senyuman terpancar dengan cinta yang indah menghiasi wajah ayahnya.

    “Ah, kau datang pada akhirnya! Ayah sudah menunggumu. Ayo, duduklah di sini di pangkuan ayah, Ayahnya membuka-kan tangannya untuk membiarkan Rebecca duduk di pangkuannya.

    Rebecca tidak dapat menahan perasaannya. ” Oh, ayah tidak mengerti! Apakah ayah dapat mencintaiku lagi? Aku sudah sangat jahat dan-“Rebecca mengangkat bingkai foto ayahnya untuk melihat.

    “Ayah tahu, Rebecca-lebih dari yang engkau pikirkan. Ayah telah melihat engkau pergi ke luar. Ayah melihat engkau jatuh dan memukul bingkai foto. Ayah melihat semuanya.

    ”Kau melakukannya?” Rebecca terperangah. Dengan perasaan sedih Rebecca bertanya dengan suara terbatah-batah “Tapi-tapi tidak kah ayah berada di tempat kerja?”

    Ayahnya menggeleng. “Ayah mengambil cuti untuk menghabiskan waktu khusus dengan mu, anakku. Itu sebabnya Ayah mengatakan kalau tidak pergi ke luar untuk bermain.

    Sejak Ayah melihat engkau jatuh, Ayah sudah merindukanmu untuk datang kepadaku sehingga Ayah bisa membalut lukamu dan membantumu. Maukah engkau datang sekarang? ”

    Rebecca hampir tidak bisa mempercayai apa yang dia baru saja dengar di telinganya. Ayahnya telah merencanakan untuk menghabiskan sore itu dengan dia … dan dia telah kehilangan itu. Oh, apa kebodohan yang terjadi! Namun ayahnya tahu itu semua … dan mencintainya pula. Dapatkah hal itu terjadi? “Tapi, Ayah, bagaimana bisa Ayah mencintaiku sekarang?”

    Ayah Rebecca tersenyum, sebuah senyuman yang dia tidak akan pernah lupa. “Rebecca, anaku sayang, aku mencintaimu sebelum kau lahir. Kau putriku. Dan aku akan selalu mencintaimu. Meskipun kadang-kadang tindakanmu akan mengakibatkan konsekuensi yang bisa dihindari, tidak ada yang dapat memisahkan engkau dari kasih sayang ayah. Sekarang tidak maukah engkau akan datang dan biarkan Ayah membantumu membersihkan luka-lukamu yang memar?

    ”Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8:35-37.

    Author NN
    (Diterjemhakan oleh Max Kaway)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles