Date:

    Share:

    SELUMBAR VS SEBALOK

    Related Articles

    Ketika perobahan bergulir pada t ahun 1998 kata reformasi menjadi begitu sakti. Ketika itu kata ini dapat menurunkan penguasa di satu Negara yang mempunyai penduduk nomor empat di dunia, Indonesia. Dalam keadaan yang tidak menentu baik politik maupun ekonomi di waktu itu, dari Jakarta sampai ke pedesaan masyarakat membicarakan mengenai kata ini, Reformasi. Kata ini menjadi sangat powerful untuk menuntut perubahan. Bilamana ada yang tidak disenangi, yang tidak sesuai dengan aspirasi satu kelompok maka tuntutan agar pimpinan di reformasi (baca: diturunkan dan diganti) menjadi begitu kencang. Belakangan kata reformasi (versi Indonesia) kehilangan tuahnya. Masyarakat melihat bahwa yang meneriakkan reformasi mempunyai muatan tertentu untuk mendudukan orangnya. Tangannya menunjuk kepada orang lain untuk direformasi dan menganggap dirinya benar tidak perlu perubahan.

    Melihat kekurangan dan kekeliruan mereka bukan kekurangan dan kekeliruan kita, senang membicarakan kesalahan dia bukan kesalahan saya adalah suatu perilaku yang menjadi pergumulan banyak orang. Templakan Yesus kepada orang masyarakat Yahudi, Parisi, Saduki yang mengikutinya menjadi gambaran masyarakat ketika itu. “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu”.(Matius 7:3, 4).

    Salahkah berusaha menjadi suci, benar dan sempurna? Jawabannya adalah tidak salah karena itu adalah tujuan yang agung (Matius 5:48; Matius 19:21; Yohanes 17:23). Kesempurnaan tidak didapatkan dalam waktu semalam, itu adalah pengalaman kehidupan yang berserah dan ingin untuk diperbaharui. Mengenal diri sendiri dan ingin untuk merubahnya oleh pembaharuan budi sendiri adalah hal yang utama, bukan orang lain yang berubah (Roma 12:20). Merubah diri sendiri bagai berperang terhadap diri sebagai musuh. Hal ini sangat disadari oleh Presiden USA, Abraham Lincoln (1809-1865) ketika ditanyakan siapakah musuh utamanya, “I will greet this day with a forgiving spirit. I will forgive myself. For many years, my greatest enemy has been myself”.

    Kesulitan untuk merubah perilaku dan tabiat umumnya karena kita tidak mengenali diri kita. Itu sebabnya Ny. EG white menasihatkan “Kebaktian yang paling berfaedah bagi kemajuan kerohanian adalah yang ditandai dengan kehikmatan dan renungan yang mendalam, masing-masing berusaha mengenali dirinya sendiri dan dalam kerendahan hati berusaha belajar tentang Kristus.- 1 T 412.

    Menjadi suci, benar dan sempurna adalah usaha yang mulia namun perlu berhati-hati agar tidak terperangkap kepada kefanatikan dan formalitas. Hal ini dikarenakan Setan selalu mengintai. Lebih jauh pena inspirasi menasihatkan:

    “Kalau Setan melihat bahwa Tuhan memberkati umatNya serta menyiapkan mereka menyadari penipuannya maka dia akan bekerja dengan kuasa utamanya untuk menanamkan kefanatikan di satu pihak dan formalitas yang kaku di pihak lain, sehingga dia bisa panen jiwa.- 2 SM 19.

    Penyelidikan kita mengenai firman Tuhan dan tulisan-tulisan Roh Nubuat akan menghantar kita kepada Yesus yang sumber kasih karunia. Saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling mendoakan kiranya menjadi bahagian kita sampai Maranatha.

    Oleh : Pdt. Dr. Moldy Mambu

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles