Date:

    Share:

    PESAN ALLAH DI BALIK BENCANA

    Related Articles

    Dalam kalangan umat beragama nuansa akhir dunia lebih ditampilkan dengan adanya sebuah kekuatan anti agama, melawan Allah, timbulnya bencana alam dan berakhir dengan kehancuran dunia yang kemudian diganti dengan dunia baru. Ada juga kalangan tertentu yang menafsirkan akhir dunia ini dengan terjadinya perang nuklir yang menghanguskan muka bumi dan menimbulkan banyak kematian.

    Dari semua sumber-sumber kepercayaan/agama, pemikiran, ilmu pengetahuan maupun segi lainnya pada umumnya berkesimpulan bahwa “akhir dunia” berakhir dengan peristiwa hancurnya kehidupan di muka bumi, tidak ada seorang peramal dari manapun yang mengatakan akhir dunia dengan tenang dan damai.

    Yehezkiel 26:12 Maka dirampasnya kelak segala harta bendamu dan dijarahinya segala daganganmu yang indah-indah dan dirobohkannya segala pagar tembokmu dan dibongkarnya segala rumah peranginanmu, dan segala batumu dan kayumu dan robohan rumahmu akan dibuang olehnya ke tengah-tengah laut. (ATL) Yermia 25:31-33 Deru perang akan sampai ke ujung bumi, sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap bangsa-bangsa; Ia akan beperkara dengan segala makhluk: Orang-orang fasik akan diserahkan-Nya kepada pedang, demikianlah firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, malapetaka akan menjalar dari bangsa ke bangsa, suatu badai besar akan berkecamuk dari ujung-ujung bumi. Maka pada hari itu akan bergelimpangan orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN dari ujung bumi sampai ke ujung bumi. Mereka tidak akan diratapi, tidak akan dikumpulkan dan tidak akan dikuburkan; mereka akan menjadi pupuk di ladang.
    Sebagai pemeluk agama Kristen-Advent, kita mencoba menguraikan dengan singkat tanda-tanda akhir dari dunia dan peristiwa-peristiwa yg akan terjadi sesuai nubuatan yang terdapat dalam Kitab Suci (Alkitab), membandingkan dengan Ramalan dari kepercayaan lain yang dimengerti dan mencoba menggabungkan menjadi satu kesimpulan. Kami merasa tidak sanggup untuk menerangkan dengan tepat pemandangan yang akan berlangsung didunia ini pada masa akhir dunia, tetapi hal ini perlu diketahui, bahwa sekaranglah saatnya bagi umat manusia berjaga dan berdoa, karena hari Akhir yang besar itu sudah lebih dekat, lebih dekat dari berita mula-mula yang dikumandangkan lebih 2000 tahun yang lalu.

    Ada beberapa ayat Alkitab yang menyimpulkan bahwa Allah melakukan kendali atas kekuatan alam seperti gempa bumi, badai, banjir, kekeringan, untuk melaksanakan maksudNya.

    1. Hujan. Alkitab menceritakan bahwa Allah mengendalikan hujan. Ulangan 11:14,16,17…maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu. (Ulangan 28:12, Ayub 5:10, Matius 5:45, Yakub 5:17, 18)

    2. Kilat. Mazmur 97:4 Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. Guntur, salju, angin puting beliung, banjir, awan “untuk menyelesaikan semua yang dia perintahkan di muka bumi, apakah untuk perbaikan, atau untuk tanahNya, atau untuk kasih, Dialah yang menyebabkan hal hal ini terjadi” (Ayub 37:12-13, Ayub 28:10, 11, Mzm 107:25, 29, Nahum 1:3-4).

    3. Allah menyebabkan gempa bumi. Ayub 9:5,6 Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang; (Ayub 28:9, Mzm 18:7, 77:16-18, 97:3-5, Yes 2:19, 24:20, 29:6, Yer 10:10, Nahum 1:5, Ibr 12:26), dan berpindahnya pegunungan dan lembah (Yeh 3:20). Kekuatan kekuatan alam tak pernah lepas dari pengendalian Allah, tetapi dikendalikan Allah yang “mengguncang bumi lepas dari tempatnya, dan tiang tiangnya bergetar” (Ayub 9:6). Allah melihat ke bumi dan bumipun bergetar, menyentuh pegunungan dan merekapun berasap!” (Mzm 104:32). “Aku menciptakan kegelapan dan terang, Aku menciptakan damai dan bencana, Aku, Allah yang melakukan semua hal ini” (Yes 25:7).

    4. Angin Topan. Nabi Yehezkiel menulis : “Maka kata Tuhan Allah: Aku akan membuat angin topan dalam kemarahanKu, dan akan ada banjir dalam kemarahanKu. Mirip dengan ayat ini, Pemazmur menyebutkan unsur unsur di alam yang patuh pada perintah Allah: “api dan hujan es, salju, angin badai akan memenuhi perintahNya (Mzm 148:8). Amos menanyakan secara retoris “Apakah itu kejahatan menghancurkan sebuah kota, kalau Allah telah menyelesaikannya? (Amos 3:6).

    5. Allah mengguncang langit dan bumi. Dalam konteks yang sama Hagai menulis: “Sekali lagi, sementara waktu berjalan, Aku akan mengguncangkan dunia dan bumi, dan laut dan tanah dan Aku akan mengaduk matahari. Dalam ayat lain Haggai menulis “sekali lagi, dalam sekejap, Aku akan mengguncangkan langit dan bumi dan laut dan tanah kering, dan Aku akan mengguncangkan bangsa bangsa…”(Hag 2:6,7). Bertentangan dengan kepercayaan kafir bahwa dewa dewa mengendalikan gempa bumi, hujan, dan kilat. Nabi dalam Alkitab memastikan pengendalian Allah atas kekuatan kekuatan alam.

    Tanda tanda Penghukuman Terakhir
    Bencana bencana seperti gempa bumi sering menjadi tanda tanda akhir jaman, karena bencana bencana ini adalah tanda-tanda penghukuman Ilahi supaya menjadi perhatian para pelaku kejahatan untuk bertobat sebelum penghukuman terakhir. Bencana bencana ini mewakili peringatan Ilahi yang serius dan anjuran untuk bertobat dan diselamatkan sebelum penghukuman terakhir. Yesus berbicara mengenai perang, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit sebagai bencana bencana yang terjadi tak hanya terpusat pada saat saat akhir dunia ini tetapi selama masa sebelum kedatanganNya. Poin ini tercakup dalam nasehat supaya jangan kaget dengan terjadinya hal hal ini “karena semua hal ini harus terjadi, tetapi kesudahannya belumlah tiba” (Mat 24:6; Mark 13:7, Luk 21:9). Kenyataannya, tanda tanda ini disebut mewakili “permulaan dari penderitaan” (Mat 24:8; Mark 13:8).

    Ekspresi terakhir telah digunakan dalam Yudaisme secara teknis untuk melukiskan periode penderitaan (kelahiran Mesias) yang akan menjadi pendahuluan untuk pendirian Kerajaan Mesianik. Mungkin saja Yesus menggunakan konsep yang umum ini untuk menyebutkan sifat kondisi yang akan mendahului kedatanganNya. Peristiwa peristiwa perang, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit bukanlah hal yang utama tetapi menunjuk kepada dekatnya akhir jaman. Bencana bencana ini menandakan jaminan bahwa masa kesudahan akan pasti datang.

    Meningkatnya Bencana bencana
    Bencana bencana akan meningkat sebelum akhir jaman. Dengan mengatakan bahwa perang perang, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit adalah “baru permulaan dari penderitaan” (Mat 24:8; Mark 13:8), Kristus dengan jelas berkata bahwa bencana bencana akan meningkat ketika Kesudahan mendekat. “Permulaan” ini mengisyaratkan bahwa akan ada lebih banyak bencana yang lebih buruk yang akan terjadi. Bencana bencana ini akan mengakibatkan kesulitan besar yang, Yesus katakan, “jika masanya tidak diperpendek, tak akan ada manusia yang dapat selamat” (Mat 24:22, Mark 13:20).

    Seruan untuk Bertobat
    Bencana berfungsi sebagai peringatan kepada manusia untuk bertobat. Bencana dapat memiliki pengaruh yang melembutkan kepada hati manusia. Bila terjadi perang, atau gempa bumi menghancurkan kehidupan banyak orang dan harta, atau kekeringan yang merusak tanaman pangan dan mengeringkan sumber air, atau penyakit yang menewaskan jutaan jiwa, banyak orang akan berteriak kepada Allah dalam doa atau kutukan. C.S. Lewis menulis bahwa “penderitaan adalah suara lantang Allah kepada dunia yang tuli”. Adalah gempa bumi yang menyebabkan para penghuni penjara di Filipi berteriak “Apa yang harus saya lakukan supaya selamat?” (Kis 16:30). Adalah bencana kelaparan yang membuat raja Ahab mencari nabi Elia kemana mana (1 Raja 18:10). Adalah bencana penyakit yang menyebabkan Firaun bertelut, mengaku didepan Musa “Aku telah berdosa terhadap Tuhan Allahmu, dan melawanmu. Sekarang, oleh karena itu, ampunilah dosaku, aku memohon kepadamu, hanya sekali ini, dan mintalah kepada Tuhan Allahmu untuk menjauhkan bencana ini dari ku” (Kel 10:16,17).

    Di bukit Zaitun, Yesus menubuatkan bahwa bencana-bencana akan terjadi sebelum kedatanganNya. Melihat fungsi dan alamiahnya, kita dapat menyebut bencana-bencana ini sebagai “tanda penghakiman Ilahi”. Secara khusus Yesus berkata “dan kamu akan mendengar perang dan deru perang; janganlah kaget, karena hal ini harus terjadi, tetapi saat akhir belumlah terjadi. Karena bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat, tetapi ini barulah permulaan penderitaan”. (Mat 24:6-8, Mark 13:7,8). Lukas menambahkan “laut dan ombak bergejolak” (Luk 21:25) adalah tanda tanda kesudahan jaman. Tambahan dari Lukas ini mengingatkan kita tentang Tsunami di Asia Tenggara.

    Bencana bencana seperti gempa bumi, letusan vulkanis, tornado, dan angin topan dapat memiliki pengaruh yang melembutkan hati manusia. Bencana bencana dapat menantang orang orang yang puas dengan dirinya sendiri dan orang yang mementingkan diri untuk mengakui keterbatasan dan keadaan tidak dapat ditolong mereka sehingga mereka mencari Allah. Adalah gempa bumi yang menandai kematian Kristus dan menyebabkan pemimpin pasukan dan para pasukannya untuk mengakui “Orang ini benar benar Anak Allah” (Mat 27:54). John Wesley menulis di tahun 1777 kepada seorang teman: “Tak ada panggilan Ilahi yang memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap orang berdosa selain gempa bumi” (majalah Time edisi 1 September 1975). Pernah terjadi di sebuah SMU di Palm Springs (California) ditempel sebuah pengumuman “pada saat terjadi gempa bumi, peraturan Kejaksaan Tinggi mengenai larangan berdoa di sekolah akan dihentikan untuk sementara”.

    Kemenangan Akhir (8A&O 323-331):
    Kristus telah menyuruh umatNya memperhatikan tanda-tanda kedatanganNya, dan bergembira sementara memandang tanda-tanda Raja mereka yang datang itu. Lukas 21:28-31 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.
    Akan tetapi oleh karena roh kerendahan hati dan penyerahan di gereja telah digantikan oleh kesombongan dan formalisme, kasih kepada Kristus dan iman kepada kedatanganNya telah menjadi dingin. Karena asyiknya dalam keduniawian dan kepelesiran, orang yang mengaku umat Allah telah dibutakan terhadap petunjuk Juruselamat mengenai tanda-tanda kedatanganNya. Doktrin mengenai kedatangan Kristus kedua kali telah diabaikan, dan ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan itu dikaburkan oleh salah tafsir, sampai akhirnya diremehkan dan dilupakan. Terutama hal ini terdapat di gereja-gereja Amerika. Kebebasan dan kesenangan yang dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat, ambisi untuk memperoleh kekayaan dan kemewahan, membuat pengabdian sepenuhnya kepada usaha mencari uang. Keinginan mendapatkan popularitas dan kuasa, yang tampaknya dalam jangkauan semua orang, menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan harapan mereka kepada perkara-perkara duniawi dalam hidup ini. Dan menganggap masih lama hari yang penting itu, bilaman segala perkara yang sekarang ini berlalu.

    Pada waktu Juruselamat menunjukkan kepada pengikut-pengikutNya tanda-tanda kedatanganNya, Ia meramalkan kemurtadan yang terjadi sebelum kedatanganNya yang kedua kali itu. Akan terjadi, seperti pada waktu zaman Nuh, kegiatan dan bisnis duniawi dan mencari kepelesiran – membeli, menjual, menanam, membangun, kawin-mawin – dengan melupakan Tuhan Allah dan kehidupan masa yang akan datang. Bagi mereka yang hidup waktu ini, nasihat Yesus adalah: Lukas 21:34 “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
    Keadaan gereja pada saat ini digambarkan dalam kata-kata Juruselamat di dalam buku Wahyu 3:1 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Dan kepada mereka yang menolak untuk bangkit meninggalkan ketidakpedulian, diberikan amaran penting ini; Wahyu 3:3 Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.

    Nabi Yeremia pada waktu memandang kepada masa yang menakutkan ini berseru: Yeremia 4:19,20 Aduh, dadaku, dadaku! Aku menggeliat sakit! Aduh, dinding jantungku! Jantungku berdebar-debar, aku tidak dapat berdiam diri, sebab aku mendengar bunyi sangkakala, pekik perang. Kehancuran demi kehancuran dikabarkan, seluruh negeri dirusakkan; kemahku dirusakkan dengan tiba-tiba, tendaku dalam sekejap mata.
    Mengenai hari yang dahsyat, firman Allah, dalam bahasa yang sungguh-sungguh dan sangat berkesan, memanggil umat-umatNya untuk bangun dari tidur rohaninya, dan mencari Allah dengan pertobatan dan kerendahan hati. Yoel 2:1 Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari TUHAN datang, sebab hari itu sudah dekat; Yoeal 2:12,13 “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
    Untuk mempersiapkan suatu umat yang dapat berdiri teguh pada hari Allah, perlu dilakukan pembaruan besar. Allah melihat bahwa banyak orang yang mengaku umatNya tidak membangun untuk kekekalan, dan di dalam kemurahanNya Ia mengirim suatu pekabaran amaran untuk membangunkan mereka dari tidurnya, dan menuntun mereka untuk bersedia kepada kedatangan Tuhan. Amaran itu dinyatakan dalam Wahyu 14:6,7 Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”
    Pekabaran ini dinyatakan menjadi bagian dari ”Injil yang kekal”. Pekerjaan untuk menyiarkan Injil tidak pernah diserahkan kepada malaikat-malaikat, tetapi telah dipercayakan kepada manusia. Malaikat-malaikat kudus ditugaskan untuk mengendalikan pekerjaan ini. Mereka bertanggungjawab atas pergerakan besar keselamatan umat manusia. Tetapi pengajaran Injil yang sebenarnya di dunia ini dilakukan oleh hamba-hamba Kristus.

    Bukan ahli-ahli teolog terpelajar yang mengerti kebenaran ini, dan yang melibatkan diri dalam penyiarannya. Pada waktu kedatangan Kristus yang pertama, imam-imam dan ahli-ahli taurat kota suci, kepada siapa firman Allah dipercayakan, seharusnya memahami tanda-tanda zaman, dan memberitakan kedatangan Dia yang dijanjikan itu. Kebodohan mereka adalah akibat dari dosa kelalaian mereka. Karena hanyut dalam perjuangan yang ambisius untuk memperoleh tempat dan kuasa di antara manusia, mereka kehilangan pandangan terhadap kehormatan-kehormatan Ilahi yang diberikan Raja Surga kepada mereka.

    Seorang malaikat mengunjungi dunia ini melihat siapa-siapa yang bersedia menyambut Yesus. Tetapi ia tidak melihat adanya tanda-tanda kesediaan. Ia tidak mendengar suara pujia-pujian dan kemenangan, bahwa waktu kedatangan Mesias sudah dekat. Malaikat itu melayang-layang sebentar di atas kota terpilih dan di atas Bait Suci. Tidak ada tanda-tanda bahwa Kristus sedang ditunggu-tunggu, dan tidak ada persediaan menyambut Raja kehidupan itu. Dalam keheranan, utusan Surgawi itu sudah hampir kembali ke Surga dengan satu berita yang memalukan, pada waktu ia menemukan sekelompok gembala yang menjaga ternak mereka pada waktu malam.

    Oh, betapa cerita Betlehem yang luar biasa ini menjadi suatu pelajaran. Bagaimana cerita ini menegur ketidakpercayaan kita, kesombongan kita dan kepuasan diri sendiri. Bagaimanakah cerita itu mengamarkan kita supaya berjaga-jaga, agar jangan oleh kelalaian kita, kita juga gagal memperhatikan tanda-tanda zaman, sehingga tidak mengetahui hari pehukuman kita.

    Penjaga-penjaga tembok kota Sion seharusnya adalah orang pertama yang menangkap berita kedatangan Juruselamat, orang pertama yang mengumumkan kedatanganNya yang sudah dekat, orang pertama yang mengamarkan orang-orang supaya bersedia kepada kedatanganNya. Tetapi mereka tenang-tenang saja, memimpikan perdamaian dan keamanan, sementara orang-orang tertidur di dalam dosa-dosa mereka. Yesus melihat gerejaNya bagaikan pokok ara yang tidak berbuah, ditutupi oleh daun-daun kesombongan, tetapi tidak menghasilkan buah-buah yang berharga. Ada kesombongan pemeliharaan formalitas agama. Sementara roh kerendahan hati yang benar, pertobatan dan iman – yang satu-satunya bisa memberikan pelayan berkenan kepada Allah – sangat kurang. Sebagai ganti kasih karunia Roh, mereka menunjukkan keangkuhan, formalisme, kesombongan, mementingkan diri sendiri dan penindasan. Gereja yang murtad menutup matanya kepada tanda-tanda zaman.

    Matius 24:48,29 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk,Demikianlah akibatnya kalau lalai menghargai dan menggunakan terang dan kesempatan yang diberikan Allah. Dan inilah sebabnya mengapa banyak orang yang mengaku pengikut Kristus menolak menerima terang dari surga, dan seperti orang-orang Yahudi zaman dahulu, tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat mereka. Oleh karena kesombongan dan ketidakpercayaan, Tuhan melewatkan mereka, dan menyatakan kebenaranNya kepada orang lain yang telah memperhatikan semua terang yang telah diterima, seperti gembala-gembala di Betlehem dan orang-orang Majus dari negeri Timur.

    Maksud Allah dengan bencana-bencana itu.
    ”Allah mempunyai suatu maksud dengan mengizinkan bencana-bencana itu terjadi. Itu merupakansalah satu cara dari Dia untuk menyadarkan pria dan wanita. Oleh perbuatan yang ganjil melalui alam Allah hendak menerangkan kepada manusia yang ragu-ragu apa yang telah dengan jelas dinyatakan-Nya di dalam Firman-Nya”. 19MR 279 (1902).
    ”Betapa sering kita mendengar tentang gempa bumi dan badai, tentang kemusnahan akibat api dan banjir, dengan kroban jiwa dan harta yang tak ternilai. Seolah-olah bencana-becana itu adalah meledaknya secara tak terduga, kekuatan alam yang tak teratur dan tak terkendali yang seluruhnya di luar kemampuan kendali manusia, tetapi di dalam segalanya itu maksud Allah dapat terbaca. Bencana-bencana itu adalah sebagian dari wahana (pikiran/ide) Allah untuk menyadarkan laki-laki dan perempuan akan bahaya yang mengancam mereka”. (PK 277 (1914).

    Peristiwa-peristiwa yang akan datang berada di tangan Tuhan.
    ”Dunia ini bukannya tanpa seorang penguasa. Rangkaian peristiwa yang akan datang ada di tangan Tuhan. Yang mulia di surga menentukan nasib bangsa-bangsa dan juga kepentingan gereja-Nya berada di bawah pengaturan-Nya.” 5T 753 (1889)

    Pentingnya belajar Alkitab.
    “Orang-orang Kristen arus bersiap menghadapi apa yang segera akan meledak di dunia ini sebagai suatu kejutan luar biasa, dan persiapan ini harus mereka adakan melalu belajar Firman Allah dengan tekun serta berusaha menyesuaikan kehidupan mereka dengan pengajaran-pengajaran-Nya.” PK 626 (1914).
    “Tidak ada yang tahan berdiri selama pertarungan sengit yang terakhir kecuali mereka yang sudah membentengi pikiran dengan kebenaran-kebenaran Alkitab.” GC 593/4 (1911).
    “Anggota-anggota kita perlu memahami ramalan-ramalan Allah;……” 5T 273 (1883).
    ”Kantongilah Alkitab kecil bersamamu sementara engkau bekerja, dan manfaatkanlah setiap kesempatan untuk neghafalkan janji-janjinya yang berharga itu.” RH, 27 April 1905.
    ”Waktunya akan tiba di mana banyak orang akan kehilangan firman yang tertulis itu. Tetapi kalau firman ini sudah tertera dalam ingatan, maka tak seorang pun dapat merenggurnya dari kita.” 24MR 760 (1906).
    ”Pelajarilah firman Allah. Masukkanlah janji-janjinya yang berhaga itu ke dalam ingatan agar apabila kita akan kehilangan Alkitab, maka kita masih tetap memiliki firman Allah itu.” 10MR 298 (1909).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles