Date:

    Share:

    PENCOBAAN YANG KITA ALAMI TIDAK MELAMPAUI KESANGGUPAN KITA

    Related Articles

    I. Pendahuluan
    Adalah lazim bagi setiap pendeta mendoakan seseorang yang baru saja keluar dari air baptisan dengan ucapan, “biarlah Roh Kudus selalu menguatkan saudara…… yang baru saja dibaptiskan ini, agar dia tetap setia dan teguh di dalam imannya saat dia menghadapi pencobaan yang diarahkan kepadanya.” Hal ini juga diucapkan oleh para pandeta yang baru saja membaptiskan lebih dari 1200 jiwa pada penutupan KKR Pdt. Mark Finley pada hari Sabat, 9 September 2012 di kolam baptisan Manadi International School setelah berlangsungnya KKR “Hope for Manado” sejak tanggal 31 Agustus di aula Grand Kawanua Hotel, Kairagi Manado. Di antara yang dibaptiskan adalah seorang bapak yang sudah berumur 67 tahun dimana telah lebih dari 38 tahun meninggalkan kebenaran dan melakukan dosa mencobai Tuhan Allah (1 Korintus 10:9) salah satu dosa itu yakni melanggar kekudusan hari Sabat. Puji Tuhan, bapak yang kelahiran desa Kakas, memiliki anak pendeta KGPM di desa Nanasi, akhirnya menyadari kesalahannya setelah dilawat oleh Roh Kudus. Memang benar bahwa seseorang yang baru saja dibaptiskan amat rentan terhadap pencobaan, sebab seseorang yang baru saja dilahirkan kembali melalui air dan roh pada upacara baptisan yang kudus adalah seorang bayi yang baru saja dilahirkan kembali secara rohani dari manusia lamanya. Dan sebagai ciptaan baru, dia benar-benar adalah jiwa yang baru di dalam Kristus dimana masih bergantung dan membutuhkan nasihat-nasihat Firman Allah yang datang dari para rohaniwan dan tua-tua gereja berupa di dalam roh kelemah-lembutan dan penuh kasih sayang. Dalam arti bahwa saat dia baru saja diterima menjadi anggota gereja maka pendengaran dan penglihatannya sangat membutuhkan perhatian dan perlakuan yang lemah-lembut. Paulus sendiri memberikan nasihat kepada orang-orang Kristen yang baru bertobat dari kekafiran dan keYahudian di dalam 1 Korintus 3:2 dengan sebutan “susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras,…” Jadi praktisnya bahwa orang yang baru saja dibaptiskan sangat senang melihat anggota-anggota gereja yang sudah lama di dalam kebenaran agar “selalu merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Efesus 55:21, band. Yakobus 4:10; 1 Petrus 5:5, 6). Dengan jalan ini mereka akan menjadi betah di gereja, di lingkungan komunitas yang masih baru bagi mereka. Namun bukan berarti bahwa orang-orang yang masih baru di dalam kebenaran ini bebas dari pencobaan. Pencobaan tidak memadang bulu, dan saat pencobaan itu datang maka itu tidak memilih-milih, apakah dia masih baru atau sudah lama di dalam kebenaran Tuhan maka itu akan selalu menimpa orang-orang Kristen.

    II. Pencobaan Yang Kita Alami Tidak Melampaui Kesanggupan Kita
    Betapapun, Alkitab begitu gamblang menyatakan bahwa menyatakan bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia (1 Korintus 10:13a). Kalau demikian, mengapa banyak orang yang mengaku Kristen sering jatuh ke dalam pencobaan padahal pencobaan yang mereka alami adalah pencobaan biasa? Pencobaan biasa dalam arti tidak melebihi kekuatan manusia. Ini mengingatkan kita kepada pencobaan yang dialami Yesus Kristus di padang belantara yang mana secara jelas adalah model pencobaan yang melebihi kekuatannya sebagai seorang manusia yang merupakan oknum KeAllahan sudah menjelma menjadi manusia sejak dikandung oleh Roh Kudus lewat rahim Maria.

    Namun sekalipun banyak orang sudah membaca cerita pencobaan yang dialami Kristus sebagaimana yang tercatat di dalam kitab-kitab Injil namun kebanyakan masih menerima konsep bahwa Kristus dapat menanggung pencobaan sebanyak tiga kali di pandang gurun itu karena dia adalah Allah. Banyak yang menganggap sepi atau meremehkan pencobaan yang Yesus alami sebagai sesuatu kemustahilan bahwa Dia dapat menanggung dan mengalahkan pencobaan yang diarahkan Setan kepada-Nya karena Di telah menggunakan kekuatan keAllahannya. Kalau memang demikian, mengapa Kristus dicobai pada saat Dia sedang berpuasa, dan itu terjadi saat Dia sudah berpuasa pada hari ke-40 (Matius 4:1). Jelas di sini bahwa pencobaan dari Setan ini bukan hendak menyerang sisi keAllah dari Yesus tetapi sebaliknya bahwa itu hendak melumpuhkan ketergantungan Yesus kepada Allah Bapa-Nya. Secara sepintas lalu, boleh jadi Setan hendak memanfaatkan sifat kemanusiaan Yesus Kristus yang dianggapnya boleh jadi sedang berada dalam kondisi yang lemah penuh kerapuhan dan mudah jatuh yang mana bisa saja gagal menurut kehendak Allah Bapa-Nya. Untuk itu Setan bisa saja mengambil keuntungan dari kerapuhan Kristus yang sedang dalam keadaan lapar secara fisik karena berpuasa sehingga dia anggap itu juga bis melemahkan kekuatan-Nya secara mental dan pada akhirnya tidak ada kekuatan sama sekali untuk menolak pencobaan yang diarahkannya. Padahal yang terjadi sebaliknya, justru saat Kristus dalam kelemahan secara fisik maka ketergantungan dan penyerahan-Nya kepada Allah Bapa benar-benar terjadi secara total dicobai dengan maksud agar Dia dapat mengambil bagian dalam kodrat ilah yang luput dari hawa nafsu yang membinasakan (2 Petrus 1:4).

    Tetapi yang jelas bahwa orang-orang Kristen sudah diteladankan oleh Kristus satu roh ketergantungan secara total kepada Allah Bapa yang memungkinkan mereka selalu menang pada setiap pencobaan. Melalui kekuatan Roh Kudus, tidak ada kata maaf bagi mereka yang sudah berada di dalam kebenaran Kristus. Mengapa dosa masih berkuasa lagi dalam diri orang percaya saat dia kalah menghadapi peperangan iman, kalah melawan pencobaan? Jawabannya sungguh sederhana, yaitu bahwa dia selalu memaafkan dirinya bahwa memang dia masih manusia, tidak luput dari kelemahan. Walaupun dia tidak pernah mengenyam pendidikan teologi tentang pencobaan tapi sadar atau tidak bahwa dia sedang menyokong satu konsep konsep klise bahwa sekali selamat sudah selamat, yang mereka jabarkan kepada pemahaman bahwa Kristus memang tidak pernah jatuh dalam dosa dan dia selalu menang terhadap pencobaan karena Dia memiliki kekuatan KeAllahan. Jadi dengan berkata bahwa “saya kan masih manusia,” ah kalian kalian kan orang-orang alim, anggota majelis jemaat, anda kan pendeta, otomatis anda harus jadi orang suci. Padahal saat seorang tua-tua jemaat memberikan nasihat kepada seseorang yang jatuh dalam pencobaan maka maka orang itu hanya menjawab, “uruslah keselamatan masing-masing, jangan sok suci untuk menasihati saya.” Pada akhirnya orang itu tidak pernah mau berpikiran maju untuk bertumbuh di dalam iman dan di dalam pengetahuan akan Tuhan Yesus Kristus (2 Petrus 3:18).

    Paulus secara tegas menulis dalam Roma 6:12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Pencobaan itu memang bukanlah dosa, tetapi apabila seseorang jatuh ke dalam pencobaan maka dia pasti menjadi pendosa, pelaku dosa atau berdosa. Memang kita adalah orang-orang berdosa dan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa (Matius 9:13), namun demikian setelah kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita maka kita tidak mungkin mempermalukan Kristus atas pengakuan kita sebagai murid-murid-Nya hanya oleh sebatang rokok, satu hari Sabat kita bekerja, dan memiliki wanita idaman lain, atau laporan keuangan yang tidak transparan kepada atasan, laporan kekuatan yang akuntabilitas kepada perusahaaan rekanan ataupun kepada pemerintah terkait perpajakan, atau laporan keuangan dari bendahara jemaat, kantor konfrens kepada higher organization. Zakheus atau Lewi sang pemungut cukai tidak lagi jadi penagih pajak yang manipulatif setelah pertobatan mereka menjadi pengikut Yesus. Abraham tidak lagi menjadi seorang pendusta setelah dia disebut bapa segala orang percaya setelah melewati berbagai pencobaan baik berdusta kepada Firaun di Mesir bahwa Sara bukan istrinya tapi adiknya, Ini berarti bahwa pencobaan yang menguji prinsip integritas moral kita tidaklah bersifat lokal atau situasional tapi universal dan mendasar dimana prinsip integritas yang tertuang ke dalam Hukum Allah itu mengikat sepanjang waktu dimana itu bisa menembus batas-batas budaya dan negara, dan denominasi, gender dan strata social. Bahkan pencobaan itu tidak hanya terjadi di kalangan para penurut Hukum Allah tetapi juga di kalangan yang bukan penurut Hukum Allah seperti yang dialami Abraham. Tuhan Allah tidak membebaskan Abraham dari keberdosaaan karena ketidak-setiaan kepada istri yang sah karena Hagar adalah seorang budak. Allah membebaskan Daud dari pelanggaran dosa percabulan karena dia adalah seorang raja yang akan menurunkan keturunan Mesias. Tindakan pengkianatan Yudas Iskariot dan penyangkalan Petrus tidak dianggapYesus sebagai tindakan berdosa hanya karena mereka adalah murid-murid Kristus. Paulus mencatat bahwa oleh kehendak Allah kita yang sudah mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita maka kita akan tetap berada di dalam Dia karena kita adalah ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). Oleh anugerah Kristus sajalah maka kita adalah orang-orang merdeka, terlepas dari kutukan dan upah dosa dan ancaman kematian kekal (Roma 6:23). Sebab oleh Allah kita berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita (1 Korintus 1:30).

    Pada saat seseorang yang jatuh ke dalam pencobaan maka dia harus mengambil hikmah dan pelajaran dari kejatuhan itu dan tetap percaya bahwa dia masih memiliki Kristus sebagai pengantaranya (1 Yohanes 2:1) untuk mengampuni dan memberikan kekuatan dan kekebalan rohani menghadapi pencobaan yang lebih hebat. Untuk itu doa-doa penyerahan menuntut hikmat dalam mensiasati pencobaan yang lebih besar itu amat dibutuhkan oleh setiap umat Allah (Yakobus 1:5). Saat seseorang pernah jatuh kepada satu pencobaan yang menyebabkan dia berbuat dosa yang mendatangkan maut yakni dosa-dosa yang dilakukan setelah dia memperoleh pengetahuan tentang kebenaran maka tidak ada lagi pengantaraan Kristus untuk berlaku bagi orang itu, sebab dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah (Ibrani 10:26; 1 Yohanes 2:1, 2; 1 Yohanes 3:4; 1 Yohanes 5:16; ) sebab dia sudah mendukakan bahkan menghujat Roh Allah (Matius 12:31, 32). Kalau seseorang tetap berada di dalam Yesus, maka dia tidak berbuat dosa lagi (1 Yohanes 3:6a) namun kalau seseorang sudah mengandalkan dirinya sendiri maka di luar Kristus dia tidak akan berbuat apa apa melawan pencobaan (Yohanes 15:5). Pada saat hikmat dari Allah menjadi kekuatannya untuk mengalahkan pencobaan maka dia pasti akan menjadi sahabat lebih akrab dengan Yesus. Orang yang selalu menang gerhadap pencobaan akan selalu dikuduskan di dalam Kristus dan semakin bertumbuh di dalam kasih karunia. “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara (Ibrani 2:11). Yesus tidak pernah malu mengkleim kita saudara-Nya sekalipun kita mungkin pernah menjadi pendosa yang amat besar oleh mendukakan Roh Kudus-Nya yang mana mengabaikan nasihat dalam Efesus 4:30) selama bertahun-tahun. Tapi anugerah Kristus sajalah yang menolong kita dari bahaya kebinasaan kekal. Ingat, pencobaan itu bukan dosa, siapapun tapi orang yang gagal menghalau pencobaan pada akhirnya akan berbuat dosa. Saudara, teman atau sesame anggota jemaat bisa menjadi sarana pencobaan dari kuasa kegelapan. Tetapi pada akhirnya pilihan kita sendiri yang menentukan apakah kita menolak atau dikalahkan oleh pencobaan itu. Kesenangan dan kesusahan bisa jadi sarana-sarana untuk mencobai seseorang. Pencobaan berupa kesenangan dialami oleh raja Salomo. Dia pernah digoda secara berkesinambungan oleh kesenangan pemanjaan jasmani dan seksual yang menyebabkan dia berdosa di hadapan Allah oleh melanggar hukum ke-7. Pencobaan berupa godaan seksual pernah dialami Yusuf tapi dia akhirnya menang. Pencobaan berupa kesusahan secara fisik dan materi pernah dialami oleh Ayub dan dia akhirnya menang. Tapi Pencobaan yang dalam rupa pemanjaan kesenangan jasmani dan kesusahan pernah dialami raja Hizkia tapi dia gagal padahal dia pernah jatuh sakit dan umurnya pernah diperpanjang Tuhan selama 15 tahun. Tapi saat duta besar dari Babilon datang mengunjungi negaranya para akhirnya roh mengandalkan keuatan diri dia kedepankan dan roh ketergantungan dan memuliakan Allah dia kebelakangkan. (Yesaya 38, 39). Gantinya menunjukkan kemuliaan Allah melaliui sistem perbaktian di kaabah Yerusalem kepada utusan Babilon justru senbaliknya, raja ini hanya menunjukkan kemuliaan diri melalui gudang persenjataannya sebagai symbol kemakmuran, kekuatan dan kesenangan dirinya. Dicatat dalam Yesaya 36:1, “maka dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya.” Pasal ini jelas menceritakan bahwa Yehuda pernah luput dari serangan raja Asyur bernama Sanherib atas campur tangan kuasa Tuhan. Tapi Hizkia sempat melupakan pimpinan Tuhan ini dan tergoda mengandalkan kekuatan dirinya sendiri pada beberapa waktu kemudian.

    Ellen G. Whtie menulis: “Penderitaan dan kemalangan boleh jadi menyebabkan kesusahan, tetapi kemakmuran adalah yang paling berbahaya dalam kehidupan kerohanian. Kecuali manusia itu tunduk secara konstan kepada kehendak Allah, kecuali ia disucikan oleh kebenaran, maka kemakmuran akan membangkitkan secara pasti kecenderungan alamiah kepada kegegabahan (kesemberonoan)” {Prophets and Kings, hlm. 59, paragraf no. 3}. “Satan has control of all whom God does not especially guard. He will favor and prosper some in order to further his own designs, and he will bring trouble upon others and lead men to believe that it is God who is afflicting them.” {The Great Controversy, hlm. 589, parag. 2}. Sebagai orang Kristen, marilah kita mensiasati kemakmuran dan kesusahan oleh ketergantungan total kepada kehendak Allah agar kedua aspek ini tidak menjadi pencobaan ampuh untuk menjerumuskan kita kepada kekalahan dan kegagalan. Biarlah ketergantungan kita total kepada Kristus dan berlangsung secara berkelanjutan agar pengalaman Kristus benar-benar menjadi pengalaman dan kemenangann Kristus akan menjadi kemenangan kita. Allah tidak pernah dicobai oleh Setan (Yakobus 1:13) kecuali Kristus di padang gurun (tercatat dalam kitab-kitab Injil). Menjelang kedatangan Kristus kedua kali, Setan terus melipatgandakan kuasa pencobaannya terhadap mereka yang mengaku Kristen dan sebagaimana ketika dia mencobai Yesus, sempat mengundurkan diri dari serangannya untuk mencari waktu yang tepat (Lukas 4:13) demikian pun saat dia mencobai para pengikut Kristus dewasa ini, dia juga selalu mencari waktu yang tepat untuk mencobai dan menjatuhkan para pengikut Kristus. Sebagaimana Yesus diserang dari segala titik, demikian pun para pengikut Kristus saat ini. Saudara, teman dekat, istri atau suami sekalipun bahkan sesama anggota jemaat bisa saja menjadi sarana pencobaan dari kuasa kegelapan. Kita harus sadar bahwa pencobaan di akhir zaman juga bertujuan melemahkan iman umat-umat Allah. Bahkan pencobaan itu juga bermaksud untuk mendinginkan kasih umat-umat Allah , jadi biarlah kasih kita kepada Allah tidak menjadi dingin tetapi harus segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan (Matius 24:13, 22:37, 38). Sehingga kita akan memiliki kasih yang hangat kepada Allah bukan kasih yang suam-suam (Wahyu 3:15, 16). Ellen G. White menulis, “pencobaan yang paling kuat bukan maaf untuk dosa. Betapapun bersarnya tekanan yang dikenakan terhadap jiwa, pelanggaran itu adalah perbuatan kita. Bukanlah dengan kuasa bumi atau neraka yang memaksa seseorang berdosa. Kemauan harus tidak dapat memaksa, hati harus pasrah, atau nafsu tidak boleh menguasai pertimbangan, bahkan kemauan tidak dapat memaksa kejahatan terhadap kebenaran” (Maranatha hl. 225, paragraph 3). Janji Tuhan dalam 1 Korintus 10:13a begitu jelas harus kita percayai bahwa pencobaan yang bukan berasal dari diri kita sekalipun atau pencobaan bukan yang diciptakan oleh hasil pemanjaan hawa nafsu diri sekalipun harus kita ambil hikmahnya sebab itu tidak pernah melampaui kesanggupan kita apalagi pencobaan yang diciptakan dan oleh pemanjaan diri kita memerlukan hikmat dari Allah untuk mengalahkannya. Inilah yang disebut anugerah, apa yang Allah lakukan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita jelas menunjukkan anugerah‑Nya yang melimpah di luar dugaan dan apa yang kita pikirkan, harapkan dan doakan (Efesus 3:20).

    Oleh Pdt. Kalvein R. Mongkau,S.Ag

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles