Date:

    Share:

    PEDULI LINGKUNGAN

    Related Articles

    Satu pertanyaan menarik muncul dalam acara “cerdas-cermat” pemuda puluhan tahun lalu. Pertanyaannya berkisar pada topik “sampah”. Apa ada, pernah ada, sampah di surga? Topik yang menarik dan perlu dipikirkan.

    Beberapa pemikiran muncul untuk menjawab pertanyaan ‘apa ada atau pernah ada sampah di surga.’ Pertama, apa itu sampah? Lalu, adakah sesuatu yang “dibuang” atau “dicampakkan” di surga.

    Apakah sampah itu, apa definisinya. Kotoran, buangan, limbah; trash, waste, rubbish, litter; any materials unused and rejected as worthless or unwanted, discarded materials or objects, refuse or rubbish; benda apa saja yang tidak digunakan dan ditolak karena tidak berharga atau tidak diperlukan, material atau objek yang dibuang. Sampah dan lingkungan adalah satu dari sekian banyak masaalah yang semakin hari semakin minta perhatian manusia. Di rumah dan di luar rumah, di kota dan di desa, di negara maju dan berkembang, di darat, laut dan udara. Juga di dalam tubuh dan luar tubuh mahluk hidup, dimana-mana ditemukan sampah.

    Begitu vital dan mendesaknya masalah sampah itu menjadi urusan pemerintah. Di Indonesia ada Departemen Lingkungan Hidup (KLH), AS punya Environmental Protection Agency (EPA), dan di Eropah European Environmental Agency (EEA), kerjasama se- Eropah untuk lingkungan. Misi utama mereka bukan pungut sampah untuk kebersihan tapi memelihara lingkungan demi eksistensi dan kesinambungan kehidupan.

    Jauh sebelum negara, pemerintah dan badan-badan dunia sadar dan bertindak untuk menolong bumi dari kerusakan akibat degradasi lingkungan, tugas mengatur dan memelihara eksistensi kehidupan sudah diberikan Allah kepada Adam dan Hawa. Kejadian 2:15, “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalan taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Mengusahakan dan memelihara Eden dan seluruh bumi. Berkaitan dengan mengusahakan dan memelihara adalah “Beranak-cuculah dan dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi,” Kejadian 1:28.

    Tugas mengusahakan dan memelihara bumi besar dan luas dimensi dan cakupannya. Itu berarti mengelola, memanfaatkan, mendayagunakan dan mengembangkan pada saat yang sama menjaga, mengawasi, mengatur dan mengendalikan bumi dan alam. Bumi dan alam meliputi tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, hutan dan semua yang terkandung dalamnya. Itu rencana Allah pada awalnya di alam penuh damai, harmonis dan suci di Eden.

    Dan Tuhan mau itu berlanjut di era pasca dosa. Tugas itu adalah privilege dan kesukaan bagi Adam lalu menjadi challenge dan kewajiban sesudah dosa masuk ke dunia. “ . . . terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah-payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu,” Kejadian 3:17-19. Manusia sekarang harus berpeluh mencari makan sambil bergumul dengan semak duri dan rumput duri; mengapa? Karena sekarang, sesudah berdosa, ia mesti berurusan dengan “. . . penguasa-penguasa . . . dunia yang gelap ini, roh-roh jahat di udara,” Epesus 6:12. Fungsi, posisi dan tanggung-jawab pengelolaan, stewardship, tidak dicabut dari manusia. Bekerja yang adalah berkat dan perlu dilakukan manusia dalam suasana suci di Eden, adalah juga berkat sesudah manusia berdosa. Itu malah menjadi lebih perlu, keharusan, untuk manusia sekarang.

    Stewardship, pengelolaan atau penatalayanan bumi dan sumber alam, dkl. kepedulian lingkungan, mesti menjadi kepedulian gereja. Itu mesti tercemin dalam kehidupan sehari-hari orang-orang percaya. Bahwa manusia mengakui Sang Pencipta dan bertanggung-jawab untuk ciptaan yang dipercayakan kepadanya. Bukan hanya mengelola harta-milik dan penghasilan dan mengembalikan bagian dari berkat Tuhan untuk membeayai pekerjaan-Nya; itu penatalayanan khusus. Tidak kalah pentingnya penatalayanan umum, mengelola alam, sarana melalui mana Ia mencurahkan berkat.

    Allah yang Maha – kuasa, kasih dan bijaksana – menciptakan bukan hanya bumi tapi habitat untuk manusia. Ia mulai dengan menyediakan tanah, lalu air, kemudian udara, dan Ia lengkapi itu dengan sinar matahari. Tanah, air, udara dan sinar matahari membentuk habitat yang mendukung kehidupan. Eko-sistem yang memungkinkan tumbuhnya aneka ragam flora yang saling mendukung satu dengan lainnya dan selanjutnya mendukung kehidupan satwa dan manusia.

    Penting sekali dimengerti dua prinsip yang ditetapkan Pencipta demi eksistensi dan kesinambungan kehidupan di alam: sirkulasi dan keseimbangan. Contoh, siklus atau sirkulasi air yang kita gunakan sehari-hari. Air diambil dari tanah, setelah digunakan, itu dialirkan ke sungai membawa kotoran dari tubuh dan rumah, akhirnya mengalir ke laut. Air laut menguap menjadi titik-titik air yang murni, bebas polusi, naik ke udara dalam bentuk uap sampai akhirnya pada ketinggian dan suhu tertentu, uap kembali menjadi titik-titik air. Dibawa angin, titik-titik air jatuh di daratan sebagai hujan, sumber air bersih dan segar yang siap digunakan lagi oleh tumbuhan, hewan dan manusia. Inilah siklus yang dirancang Pencipta.

    Tumbuhan sama juga skenarionya. Akar-akar menghisap air, unsur-unsur hara dan humus dari tanah untuk makanan tanaman. Sisa-sisa makanan begitu juga cabang, ranting dan daun yang tua dan kering jatuh ke tanah. Oleh bakteri-bakteri di tanah bahan-bahan itu di-kompos atau dihancurkan, terurai menjadi zat-zat yang diperlukan oleh tanaman-tanaman untuk hidup dan bertumbuh. Bakteri-bakteri itu sangat berguna, tanpa mereka daun-daun dan ranting kering akan tetap menjadi sampah yang menganggu lingkungan. Siklus ini berjalan terus tanpa henti hari demi hari, tahun, dan generasi.
    Tapi ulah manusia mengganggu prinsip keseimbangan dan sirkulasi dan ini berakibat bencana. Hutan ditebang tanpa perhitungan sehingga tidak ada cukup pepohonan untuk menampung air hujan, akibatnya banjir. Ikan-ikan ditangkap dengan trawl, jala yang bermil-mil panjangnya ditarik oleh kapal-kapal. Satwa diburu hingga langka dan musnah. Sampah dibuang sembarangan menyumbat saluran air dan berakibat banjir. Pestisida dipakai secara tak terkendali, betul membunuh hama-hama tertentu, tapi juga berpotensi meracuni tanah, tanaman lain, hewan dan manusia. Pembuangan gas-gas beracun dari kendaraan bermotor dan pabrik mencemarkan udara dan berakibat gangguan pernafasan. Pembuangan racun-racun ke udara membuat udara terkontaminasi lalu turun sebagai acid rain.

    Berbicara polusi dan kontaminasi Amerika Serikat memang biang-keroknya. Cina nomor dua. Total AS memproduksi hampir 70% dari sampah dunia, demikian laporan EPA. Rata-rata setiap orang di AS mengkonsumsi 18 ton kertas, 23 ton kayu, 16 ton logam dan 32 ton kimia organic selama hidupnya. Kira-kira 900 juta pohon ditebang tiap tahun di AS untuk bahan bacaan, pembersih dan pengepakan. Tapi AS serius menangani sampah lewat program komprehensif penanganan sampah dengan melibatkan warga. Hampir 90% sampah kota-kota AS diangkut oleh truk-truk sampah ke land fill, areal di luar kota dimana sampah kering dipadatkan dengan traktor lalu ditutup dengan lapisan tanah tipis, begitu hari demi hari. Sesudah sekian bulan, areal landfill itu dinyatakan “penuh” dan areal baru dimulai. Sampah basah dialirkan lewat pipa ke tanki-tanki untuk netralisasi.

    Disesalkan bahwa lebih 10% dari sampah dunia dibuang ke laut. Dan oleh arus laut, kebanyakan sampah-sampah itu berakhir di Samudera Pasifik. Lebih sejuta burung dan 100,000 mamalia laut mati dalam tahun 2008 karena memakan plastik, mereka sangka itu makanannya, demikian laporan Marks & Howden.

    Program lingkungan itu mencakup tanah, air, udara dan mahluk hidup serta tumbuhan, juga cuaca, curah hujan, aliran sungai, kependudukan, eksploitasi sumber alam, konservasi, pencemaran, sampah dan banyak lagi. Banyak hal ditangani pemerintah, namun komunitas berkewajiban secara pro-aktif memelihara lingkungan di sekelilingnya dalam jangkauan dan kapasitasnya. Sampah dan konservasi adalah contoh.

    Penanganan sampah oleh pemerintah dan warga mewajibkan konsumen yakni rumah-rumah tangga memakai tiga kotak atau tong sampah; untuk memudahkan digunakan tiga warna, misalnya, hitam untuk sampah dapur, coklat untuk bahan-bahan recycle atau daur ulang, dan hijau untuk sampah hijau—sisa tumbuhan baik yang dari halaman maupun yang dari dapur. Warga men-sortir sampah menurut tiga jenis dan warna ini. Seminggu sekali atau dua kali truk sampah mengangkut sampah ke tempat masing-masing. Sampah rumah tangga dibawa ke landfill, sampah hijau ke pembuatan kompos dan sampah daur ulang ke recycling center, untuk daur ulang plastik, logam, kertas, dll. Sampah oli mobil, pelumas bekas dan semacamnya ditangani terpisah; dibawa dalam wadah tertutup untuk daur ulang kimia.

    Penanganan sampah cara ini faedahnya hampir tak terbatas. Ternyata, 90% dari kebutuhan pabrik-pabrik plastic dapat dipenuhi dari bahan-bahan daur ulang. Kalau sampah dapur dan makanan sisa dijadikat kompos maka kebutuhan pupuk sudah terpenuhi. Tumpukan sampah hilang, dan pencemaran tanah pun terhindar.

    U.S. National Park Service melaporkan waktu dekomposisi atau degradasi, proses terurainya sampah di tanah, yakni perobahan sampah menjadi makanan untuk tanaman dan tumbuhan.

    Jangka Waktu Dekomposisi/Terurainya Sampah
    Botol gelas > 500 tahun
    Botol minuman plastic 450 tahun `
    Kaleng aluminium 80-200 tahun
    Mangkok plastic busa 50 tahun
    Sol sepatu karet 50-80 tahun
    Kulit (sabuk, dll) 50 tahun
    Kain nilon 30-40 tahun
    Kantong plastic 10-20 tahun
    Kaus kaki wol 1-5 tahun
    Kayu tripleks 1-3 tahun
    Kertas koran 6 minggu
    Kulit pisang, jeruk 2-5 minggu
    Lap tangan kertas 2-4 minggu

    Jadi yang namanya gelas, plastik, kaleng, kulit dan semacamnya jangan dibuang sebagai sampah, tapi di-daur ulang, recycle. Kalau di recycle itu punya nilai ekonomis dan membantu konservasi sumber alam, tapi kalau dibuang sembarangan, bahan-bahan yang tahan puluhan/ratusan tahun baru hancur itu menyumbat selokan dan mengganggu pembuatan makanan tumbuhan dalam tanah malah mengeblok gerakan akar tumbuhan. Mulailah dengan men-sortir—memisah dan memilah apa yang mesti dibuang kemana, jangan campur semua jadi satu. Pemakaian tiga kotak atau ember yang terpisah di rumah: sampah dapur, sampah daur ulang dan sampah hijau-hijauan sangat membantu.

    Satu contoh, di California dikenal CRV, bukan mobil Honda CRV tapi California Refund Value, sejenis pajak yang dipungut lewat toko-toko groseri untuk minuman yang dikemas dalam aluminum, plastik, gelas dan logam lainnya. Pajak itu dapat ditebus oleh pembeli dengan mengembalikan kaleng dan botol kosong bekas minuman ke tempat recycle atau daur ulang yang ada dimana-mana. Agar recycle itu membudaya!

    Definisi sampah sudah jelas. Sampah adalah apa saja yang salah tempat. Daun dan kertas yang dicampakkan dan berserakan itu sampah, tapi ditimbun tanah itu menyuburkan tanaman sayur dan kembang kita.

    Satu lagi langkah peduli lingkungan yang perlu diingat adalah konservasi—berhemat, tidak memboroskan atau menyia-nyiakan milik kita. Bukan hanya makanan dan uang tapi semua, harta dan sumber alam.

    Bukan hanya anak-anak sekolah, orang dewasa juga perlu belajar tugas mengusahakan dan mengelola bumi. Banjir, tanah longsor, gagal panen, dll. dapat dicegah, dikurangi, bila sejak dini komunitas menjaga dan memelihara lingkungan. Melalaikan ini berakibat bencana bagi kita dan generasi nanti. Kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk benua-benua seberang lautan, tapi kita mampu dan bertanggung-jawab untuk lingkungan kita sendiri.

    Jaga dan peliharalah bumi, rumah kita, karena hanya ini yang kita punya, tidak ada cadangan. Gagal menjaga bumi ini, tidak ada kesempatan kedua. O ya, ada kesempatan lain, di bumi yang lain, tapi hanya untuk kelompok khusus yakni umat yang akan ditebus dari bumi. Merekapun mesti peduli dengan bumi yang tua ini.

    Umat Allah setidaknya berprihatin untuk tiga hal. Pertama, peduli, menjaga, dan mengelola lingkungannya dan apa saja yang dipercayakan Allah kepadanya untuk dia dan anak-cucu. Kedua, menjaga tubuh dan hidupnya agar sehat, kuat dan berfungsi maksimal demi kebutuhan dan kenyamanan hidupnya dan sesama. Dan ketiga, menjaga pikiran dan jiwanya agar tidak tercemar oleh hal-hal duniawi. Tantangan yang besar dan merupakan ujian.

    Tekad kita dengan berkat dan pengasihan Tuhan akan memungkinkan itu.

    Oleh: Jack Kussoy

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles