Date:

    Share:

    MENEMUKAN IDENTITAS KITA

    Related Articles

    Saya terlahir dari keluarga yang datang dari dua daerah yang berbeda. Bapak saya adalah seorang Minahasa sementara ibu saya dari Jawa. Akan tetapi, saya dilahirkan dan dibesarkan di Papua dan bertumbuh di dalam lingkungan yang sangat majemuk. Kemudian saat saya semakin dewasa, saya bertemu dengan istri saya yang bukanlah orang Indonesia. Istri saya sendiri juga datang dari keluarga yang punya latar belakang berbeda. Ayah mertua saya merupakan seorang yang datang dari Zamboanga, Filipina Selatan sementara ibu mertua saya dari Ilasan, Filipina Utara. Menariknya, istri saya sendiri lahir dan besar di Bangkok, Thailand dan hidup dalam lingkungan misionaris yang kebanyakan berasal dari Amerika dan Australia. Oleh karena itu gantinya istri saya berbicara dalam bahasa Tagalog, bahasa sehari-hari di rumahnya adalah Bahasa Inggris, dan oleh karena dia bertumbuh di Thailand maka tentu saja dia fasih berbahasa Thailand bahkan mampu membaca dan menulis di dalam aksara Thai. Setelah menikah kami sekarang tinggal di Singapore, dan tentu saja ini merupakan sebuah pengalaman yang lain. Singapore sendiri memiliki 4 bahasa Resmi; Inggris, Mandarin, Tamil, dan Melayu. Selain daripada itu, dialek yang dipakai sehari hari dikenal dengan istilah “Singlish” atau “Singaporean English” sebuah bahasa campuran inggris, dan dialek mandarin dan Hokkien. Kamipun harus bisa beradaptasi dengan bahasa sehari-hari di Singapore ini. Oleh karena itu di rumah kami, campur aduknya bahasa merupakan sesuatu yang sangat umum. Kadang kami berbicara dalam bahasa Indonesia, kadang Tagalog, kadang juga Thai, bahasa Inggris, Singlish, dan sedikit Mandarin dan Hokkien. Istri sayapun mulai mengenal dialek Manado, dan Jawa, sementara saya masih belajar berbicara Tagalog, dan juga Thai.
    Maksud saya menuliskan semua yang diatas bukanlah karena saya ingin menunjukkan bahwa kami merupakan keluarga yang spesial atau luar biasa. Saya percaya banyak dari pembaca sekalian punya pengalaman budaya dan kultur yang lebih menarik lagi dari apa yang saya miliki. Kami sekeluarga hanya seringkali membayangkan bagaimana anak-anak kami (kalau satu hari nanti akan diberikan) harus menjelaskan diri mereka. Mungkin perlu lebih dari 5 menit hanya untuk menjelaskan pada mereka yang bertanya latar belakang mereka. Mereka adalah orang Indonesia, tapi juga orang Thailand, tapi juga orang Philippines, dan juga orang Singapore. Mereka adalah orang Manado, Orang Jawa, orang Ilasan, Orang Zamboaga, Orang Bangkok, dan juga orang Singapura. Dengan kata lain, secara identitas kadang kami kuatir kalau anak-anak kami akan menjadi bingung dengan latar belakang keluarga mereka.
    Identitas memanglah sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Identitas kita merupakan gambaran diri kita yang membuat kita unik, berharga, dan bernilai. Identitas, atau yang sering dihubungkan dengan jati diri merupakan dasar dari mengapa kita ada di dalam dunia ini.
    Seorang Psikolog ternama bernama Abraham Maslow mengatakan “kebutuhan terdasar manusia adalah untuk merasa dihargai dan berarti” dan ungkapan ini sepertinya ada benarnya kalau kita lihat di dalam konteks pengenalan identitas kita. Setiap orang ingin memiliki identitas, karena melalui identitas itulah maka ia akan dikenal. Kalau dia dikenal maka akan ada kesempatan baginya untuk dihargai, dilihat sebagai seseorang yang berarti paling tidak untuk orang-orang disekitarnya. Itulah sebabnya manusia akan menilai seseorang dari identitas yang dia bawakan. Bisa saja itu melalui suku mereka, atau latar belakang pendidikan mereka, tempat lahir, asal orang tua, dan lain sebagainya.
    Akan tetapi tidak selamanya identitas itu menjadi sesuatu yang positif. Kadang kadang, oleh karena identitas timbulah konflik di dalam lingkungan social di sekitar kita. Seringkali identitas menjadi jurang pemisah antara kelompok kelompok tertentu. Bahkan tidak jarang kita dengar di berita baik dalam maupun di luar negeri saat dua kelompok yang berbeda identitas, entah itu agama mereka, atau suku mereka, dan sebagainya, terlibah di dalam pertempuran untuk menghabisi kelompok lain yang berbeda identitasnya dari mereka.
    Bahkan di dalam Alkitab sepertinya identitas pun bisa menjadi sumber konflik dan perpecahan. Sebut saja pertikaian antara peternak milik Lot dan Abraham. (Kej 13:1-7) Identitas kepemimpinan mereka menjadi sumber pertikaian di antara mereka. Ataupun juga konflik antara anak anak Yakub yang berbeda ibu (Kej 30,31) atau bahkan antara Kerajaan Yehuda dan Israel di jaman Raja-raja (1 Raja-raja 12) sampai kepada perpecahan antara Yahudi dan Non-Yahudi di dalam dunia perjanjian baru. Saat identitas kesukuan, atau latar belakang kita kedepankan maka Alkitabpun dapat melihatnya sebagai sumber perpecahan.
    Akan tetapi puji syukur kita sampaikan kepada Tuhan, karena kita semua sudah diberikan satu identitas baru. Rasul Paulus di dalam buku Kolose 3:11 menyampaikan dengan gamblang bahwa “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Identitas kita telah dipersatukan di dalam Kristus, dan sepatutnya identitas inilah yang menjadi identitas kita yang terutama.Bahwa di dalam Kristus, siapa saya sebelumnya tidaklah lebih berarti daripada siapakah saya setelah dilepaskan dari dosa dan menjadi warga Negara Sorga. Rasul Paulus kemudian menekankan kembali bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal 3:28)
    Akan tetapi sangat disayangkan dalam prakteknya sehari hari, identitas kita yang lain sepertinya masih lebih berpengaruh daripada identitas kita sebagai yang telah ditebus oleh Kristus. Tidak jarang kita temui bahkan di antara umat Advent sekalipun perpecahan jemaat hanya oleh karena dua suku yang tidak bisa meninggalkan rasa bangga terhadap identitas suku mereka dan melihat saudara mereka dari suku lain sebagai orang-orang yang tidak “sama” sekalipun dua-duanya mengaku sebagai “umat tebusan”. Kita juga seringkali melihat posisi kepemimpinan di dalam Gereja yang diisi bukanlah oleh karena kerinduan untuk menempatkan orang yang terbaik di sana, akan tetapi orang orang itu terpilih oleh karena mereka datang dari almamater yang sama, atau dari daerah yang sama, atau dari suku yang sama, atau identitas yang lainnya. Seringkali keputusan gereja, ataupun kebijakan tertentu menjadi tidak tepat sasaran oleh karena pengaruh dari orang orang yang lebih mengedepankan identitas lain mereka daripada mengangkat tinggi-tinggi idealisme yang benar bahwa kita hanya satu punya identitas dan itu adalah kita sebagai umat-umat tebusan Kristus yang menanti kedatanganNya. Bahkan tidak sedikit orang orang yang menggunakan identitas mereka untuk mendapatkan apa yang mereka mau dari dalam gereja. Tidak sedikit kita mendengar istilah “ayolah, kita kan sama sama dari daerah X masa kamu nggak mau bantu?” atau mungkin kita dengar ucapan-ucapan seperti “ah kalau bukan orang dari suku Z tidak mungkinlah dia jadi pemimpin ini dan sebagainya”
    Saya melihat, akan ada bahaya yang menghadang umat umat Advent bilamana kita terus berkutat dalam mengedepankan identitas pribadi kita dibanding melihat Kristus sebagai pemersatu kita semua. Identitas pribadi kita itu, akan secara perlahan lahan menggeser Kristus itu sendiri dari hati kita. Kalau bukan Kristus yang menjadi identitas kita, entah dari suku mana kita berasal, atau dari mana kita tamat, bahkan siapa orang tua kita, tidak akan punya efek apa apa untuk menebus kita dari dosa dan memberikan kita kehidupan yang kekal.
    Selebihnya, Paulus juga mengatakan bahwa Gereja ini sama seperti tubuh Kristus yang mungkin saja tiap organnya berbeda fungsi dan bentuknya, tapi dipersatukan oleh karena kasihNya. Saya sangatlah takut kalau kita terus mengedepankan identitas pribadi, tanpa kita sadari kita sedang memotong motong tubuh Kristus yaitu Gerejanya karena rasa bangga terhadap identitas kita yang tidak bisa kita lepaskan.
    Ketiga, kita akan lebih sibuk berperang dengan satu dengan yang lainnya, bersaing dengan satu dan lainnya gantinya bersama sama dengan rendah hati bergandengan tangan mencari jiwa jiwa yang hilang dan membawa mereka kepada Kristus. Hanyalah Setan yang diuntungkan bilamana kita terus dan terus larut dalam konflik oleh karena perbedaan suku dan latar belakang kita sekalipun kita ada di dalam satu lingkungan Umat yang sama.
    Oleh karena itu ini saya tuliskan sebagai sebuah panggilan bagi kita semua untuk kembali melihat diri kita, dan mempertanyakan diri kita. Apakah identitas saya yang sebetulnya? Apakah saya benar-benar telah dipersatukan di dalam Kristus, atau sebaliknya saya masih mempertahakankan identitas saya sebelum menjadi pengikut Kristus?
    Kembali kepada cerita masa depan anak-anak kami. Saya sekarang tidak lagi begitu perduli tentang identitas mereka bilamana satu kali kelak kami akan diberikan anak. Entah mereka orang Indonesia, Thai, Filipino, atau Singapura. Entah mereka orang Manado, Jawa, atau yang lain. Semuanya itu penting, tetapi tidaklah lebih penting dari identitas mereka yang terutama yaitu seorang Berdosa yang ditebus oleh Kristus dan sekarang ini menanti kedatanganNya yang kedua kali. Itulah yang sebetulnya menjadi perekat antara semua latar belakang mereka yang kompleks, bahwa Kristus menjadi identitas mereka yang terutama. Doa saya, identitas yang sama kita semua akan kedepankan dibanding identitas kita yang lainnya.

    Tuhan memberkati!

    Oleh: pdt Bayu Kaumpungan

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles