Date:

    Share:

    MEMEBERI

    Related Articles

    Memberi mempunyai seni tersendiri. Walau program Penatalayanan jelas mengedepankan pemberian yang terencana namun dalam kenyataannya kadang bobol karena situasi. Sebenarnya anggaran sebulan sudah mantap termasuk dana ekstra untuk pengeluaran tidak terduga. Namun ada-ada saja yang diluar schedule terjadi ketika proposal disodor atau permohonan bantuan disampaikan.

    Itulah kenyataan yang terjadi, begitu banyak program yang dijalankan semuanya membutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit. Bila permohonan sumbangan untuk kegiatan sekuler barangkali sedikit berat untuk kita membantu tetapi bila kebutuhan itu adalah untuk orang sakit, kedukaan, membantu mereka yang kena musibah dan program evangelisasi, walau kecil kita akan mengusahakannya. Jaman sekarang sepertinya anggaran yang bernama ‘sumbangan’ perlu dimasukkan dalam budget Rumah tangga sebab kebutuhan untuk menambah dana buat suatu ‘usaha’ sosial bukannya berkurang tapi semakin bertambah dan beragam kebutuhannya. Kita bersyukur karena roh memberi di kalangan anggota gereja tidak pernah surut. Bahkan dalam kenyataannya para ‘penyumbang’ semakin bertambah. Sambil memberi, sambil beramal karena kepedulian serta uluran tangan pertolongan adalah juga sebagian dari ibadah.

    “Walau saya memberi dalam jumlah besar, itu tidak mengapa kepada saya dibanding bila saya berganti posisi ke pihak penerima” kata seorang dermawan mengomentari pemberiannya. “Aku melihat-lihat dahulu sebelum memberi kepada seseorang jangan sampai pemberian saya itu hanya mubazir salah-salah bukan madu tapi menjadi racun baginya” ungkap pemberi lain menyayangkan bila si penerima bantuan malah jadi malas untuk bekerja dan berikhtiar lalu terbiasa menadahkan tangan. Memang sebaiknya bila yang diterima adalah pancing dan bukan ikan tambahnya.

    Sering kita saksikan banyak orang datang dengan pemberian sambil menghitung “return”-nya, apakah berbentuk Pahala, menjadi mulia, terangkatnya harga diri, mendapat reputasi, memperoleh “nama Baik” bahkan untuk maksud tertentu sehingga memberi sedekah itu perlu diabadikan, di dokumentasikan bahkan di pasarkan. Padahal Yesus pernah berkata “ Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”. Dalam memberi, ketulusan dan kerelaan saja tidak cukup melainkan benar-benar perlu menyiapkan mental untuk melepaskan “Sesuatu dan Diri” dengan memikirkan kepentingan orang lain secara utuh. Benar, memberi dengan melepas egoisme pribadi karena sudah melayani sesama tanpa pamrih, sudah mengasihi seperti Tuhan telah mengasihi manusia.

    Apa pernah ditanyakan kepada diri sendiri: Berapa yang sudah saya berikan kepada orang lain? Apa yang sudah saya baktikan kepada masyarakat? Berapa yang sudah saya sembahkan kepada Tuhan? Kalaupun sudah, apa niat pemberian itu?. Seperti melihat pada cermin kehidupan semuanya akan nampak jelas. Lalu dilanjutkan dengan audit etikal tentang perlakuan kepada diri sendiri dan tingkah kepada orang lain. Mungkinkah diantara banyak kebaikan pemberian yang telah dibuat ada terselip noda dan cinta diri?. Kita juga bisa mengevaluasi mengenai pemberian yang disampaikan itu apa demi kemuliaan diri pribadi, demi menyenangkan orang lain ataukah demi nilai-nilai yang lebih luhur seperti menyumbang kepada pendidikan, kemanusiaan dan Evangelisasi.

    Pemberian tidak selamanya di konotasikan berupa material dan barang-barang tangible lainnya karena bila ada ketulusan dan niat baik pemberian itu dapat dilakukan dalam bentuk lain seperti menyumbang waktu, memberi pengetahuan, menyampaikan anjuran, keteladanan, kesempatan. Boleh juga kontribusi itu berupa pencerahan, bimbingan yang berdampak dan berarti serta memiliki mamfaat jangka panjang kepada orang lain.

    Pertanyaan lanjutan, apa yang sudah kita didedikasikan untuk keluarga, berapa banyak kasih sayang yang sudah diberikan kepada anak-anak, quality time yang bagaimana kita sudah luangkan bersama si cantik dan si ganteng di Rumah, bagaimana rajutan kasih sayang diantara suami istri pada satu minggu terakhir ini? Nilainya bagus, kurang bagus atau jelek ? Barangkali kita mulai dari sini dulu, yaitu mereka yang paling dekat dengan kita . Pertanyaan selanjutnya, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka yang SAAT ini tertimpa bencana, misalkan saja yang di Manado dan sekitarnya. Bukan hanya uang anda yang dibutuhan, tenaga andapun sangat berharga bagi orang lain, bukan sekedar membantu tetapi kepedulian kita kepada orang lain adalah wujud kasih Kristus bagi sesama.

    Oleh : Redaksi BAIT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles