Date:

    Share:

    KESETIAN SEOKOR HARIMAU

    Related Articles

    Pada Jaman dahulu, di Tasikmalaya ada sepasang suami isteri di daerah itu. Kehidupan mereka cukup tentram dan bahagia. Pada suatu hari mereka menemukan seekor harimau kecil yang ditinggal mati oleh induknya. Harimau itu dipelihara oleh mereka, dididik dan diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Ternyata hewan itu tahu diri, ia menjadi penurut kepada sepasang suami istri itu. Harimau itu tumbuh menjadi besar, ia cerdas dan tangkas. Harimau itu diberi nama si Loreng.
    Demikian erat hubungan si Loreng dengan suami isteri itu sehingga ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan suami isteri itu. Kalau ia disuruh pasti menurut dan mengerjakan perintah suami isteri itu dengan baik.
    Suami isteri yang bekerja sebagai petani itu semakin berbahagia ketika lahir anak mereka, seorang bayi laki-laki yang sehat dan menyenangkan. Inilah saat bahagia yang mereka tunggu-tunggu sejak lama. Apabila mereka pergi bekerja di sawah, bayinya ditinggal di rumah. Si Loreng ditugaskan untuk menjaga keselamatan anak mereka.
    Pada suatu siang yang terik, isteri petani pergi ke sawah untuk mengirim makanan kepada suaminya. Melihat kedatangan isterinya si suami segera menghentikan pekerjaannya. Ia segera menghampiri isterinya di dangau. Di sana si suami melahap makanan yang dihindangkan isterinya.
    Baru saja selesai makan dan minum, tiba-tiba mereka mendengar suara gerangan si Loreng. Si Loreng nampak lari pontang-panting, melewati pematan sawah terus menuju ke dangau. Si Loreng mengibaskan ekornya berkali-kali dengan lembut sembari menggosok-gosokkan badannya kepada suami isteri itu.
    “Kakang, (sebutan untuk suami) mengapa tingkah si Loreng tidak seperti biasanya?” Tanya sang isteri. “ Iya, Isteriku…aneh sekali. Ada apa gerangan?” sahut sang suami. “Kakang! Lihat…!” teriak sang isteri.” Mulut Loreng penuh dengan darah!”
    Sang suami tesentak kaget, mulut si Loreng memang berlumuran darah segar.
    “Loreng…? Kata sang suami.” Jangan-jangan kau telah menerkam anakku. Kau telah membunuh anakku!”
    Si Loreng menggeleng-gelengkan kepalanya. Sehingga darah di bagian mulutnya berhamburan, si suami seketika meluap marahnya. Ia segera mencabut goloknya dan memenggal kepala si Lorong!. Si Loreng yang tak menduga diserang tak sempat mengelak. Harimau itu mengerang kesakitan, ia tidak melawannya, sepasang matanya memandang ke arah sepasang suami isteri itu dengan penuh rasa penasaran. Karena hewan itu belum mati si suami segera mengayunkan goloknya dengan penuh kemarahan sehingga tiga kali, putuslah leher si Loreng dari badannya. Binatang itu tewas dengan cara mengenaskan.
    “Kakang ! Cepat kita pulang !”
    Mereka segera berlari ke rumahnya.
    Sampai di dalam rumahnya, mereka mendapati anaknya masih berada di dalam ayunan. Bayi itu nampak tertidur nyenyak. Dirabanya tubuh anaknya itu, diguncang-guncang tubuhnya. Si bayi pun terbangun dan tersenyum melihat kedatangan orang tuanya.
    Kedua suami isteri itu bersyukur karena bayinya selamat dan masih hidup. Setelah puas memandangi anak bayinya, setelah merasa lega atas keselamatan anaknya, kini mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dalam rumah mereka, perhatian mereka terpusat pada tempat sekitar ayunan anaknya bagian bawah.
    Mereka mendapatkan bangkai seekor ular yang sangat besar berlumuran darah tergeletak di bawah ayunan. Sadarlah kedua suami isteri itu bahwa si Loreng telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya dari bahaya yaitu dari serangan ular besar.
    Suami isteri sangat menyesal, terlebih si suami, karena telah tergesa-gesa membunuh harimau kesayangannya. Hal tersebut membuatnya salah terka.
    Kisah ini memberi pelajaran kepada kita agar tidak bertindak gegabah, berpikirlah dengan cermat sebelum mengambil tindakan yang nantinya merugikan diri kita sendiri.
    “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles