Date:

    Share:

    ITU NYATA DARI BAHASAMU

    Related Articles

    Dalam Matius 26:69-72, disana dicatatkan “Sement ara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: “Engkau juga selalu bersama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.” Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazareth itu” Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Tidak lama kemudian orang-orang yang ada disitu datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.” Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah; “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”

    Penyangkalan Petrus yang kedua kali muncul setelah mereka meyakini bahwa dia adalah salah satu dari murit Yesus. Tapi, apa yang kemudian membuat mereka begitu yakin bahwa Petrus adalah salah satu dari murit Yesus? Dalam ayat 73 dikatakan ”Tidak lama kemudian orang-orang yang ada disitu datang kepada Petrus dan berkata : Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.” Rupanya identitas Petrus diketahui bukan karena model bajunya, bentuk sepatunya. Atau kalau versi sekarang, identitas Petrus diketahui bukan karena kartu namanya, bukan karena merek sepatunya, bukan pula Karena merek dasinya, bukan pula karena merek dan tipe hand phone-nya,…tetapi identitas Petrus sebagai murid Yesus diketahui karena bahasa yang digunakan oleh Petrus! Tentu saja yang dimaksudkan dengan “bahasa” yang digunakan Petrus adalah gaya bahasa/ gaya berbicara yang digunakan Petrus saat itu.

    Lalu gaya bahasa apa yang saat itu digunakan oleh Petrus? Memang ayat 73 ini tidaklah menjelaskan gaya bahasa yang bagaimana yang digunakan Petrus saat itu. Tetapi logat yang sebaliknya ada di jelaskan. Untuk melawan pernyataan mereka bahwa dia adalah salah satu dari murid Yesus, dalam ayat 74 dikatakan “Maka mulailah Petrus mengutuk…” Jadi untuk menunjukkan bahwa identitasnya bukanlah salah satu dari murid Yesus ia mulailah Petrus menggunakan gaya berbicara yang mengutuk! Artinya kata-kata Petrus adalah kata-kata yang merendahkan orang lain! Menghina orang lain! Menilai rendah orang lain! Padahal untuk ini raja Solaiman telah memberikan nasihatnya dalam Amsal 11:12 “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi,…”

    Sebaliknya, ini berarti, gaya bahasa atau gaya berbicara yang sebelumnya digunakan oleh Petrus yang membuat ia dikenali sebagai salah satu murit Yesus, adalah suatu gaya berbicara yang menghargai orang lain/ suatu gaya bicara yang mengangkat harkat orang lain/ suatu gaya bicara yang membawa berkat bagi orang lain! Sebagaimana yang raja Solaiman katakan dalam Amsal 10:21 “Bibir orang benar menggembalakan orang banyak,…” Tentu bibir orang benar yang menggembalakan itu adalah gaya bahasa/ gaya berbicara yang menghargai orang lain, karena dihadapan seorang gembala, domba-dombanya itu adalah berharga/ bernilai sampai apapun akan dibuat oleh seorang gembala untuk domba-domba gembalaannya.

    Saudaraku, gaya berbicara kita, dapat menunjukkan siapa kita sebenarnya. Gaya bahasa kita/ gaya bicara kita dapat menjadi identitas kita! Murid Yesus atau bukan! Sebagai anggota gereja, kita selalu berkumpul untuk berbakti bersama dan, saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling mendoakan satu dengan yang lainnya serta saling menggembalakan satu dengan yang lainnya. Sebagai perwakilan seluruh anggota jemaat konferens kita, marilah kita menjaga identitas kita sebagai murid Yesus, dengan menggunakan gaya bahasa / gaya berbicara yang saling mengangkat satu dengan yang lainnya. Kiranya kita semua merasakan berkat Tuhan, disaat kita tetap menjaga identitas kita sebagai murid Yesus, melalui gaya berbicara kita yang membawa berkat bagi orang lain.

    Oleh : Pdt. Dr. Robert Walean

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles