Date:

    Share:

    HATI SEORANG MUSA

    Related Articles

    Sebuah pertanyaan ringan di hari Sabat ini, “perasaan apa yang ada dalam pikiran saudara ketika membuka Sabat ini”. teringat akan sebuah penggalan syair lagu kanak-kanak, “Sabat hari yang senang, hari snang, hari snang…”. Perasaan inilah senantiasa diharapkan oleh setiap orang yang menyucikan Sabat. Tapi pada kenyataannya tidak semua bisa merasakannya oleh karena berbagai alasan. Salah satunya adalah ketika suatu ketika, ada seseorang, entah itu anggota gereja, sahabat kita ataupun orang yang terdekat dengan kita sekalipun, menghina kita, mempermalukan kita dihadapan umum. Rasanya sulit untuk menyatakan, “Sabat hari yang senang, hari snang…”, ketika mengingat besok nanti di gereja kita akan ketemu dengan orang tersebut. Pasti akan ada perasaan yang menyatakan, “Sabat ini tidaklah menyenangkan karena akan bertemu dengan orang si A, si B atau si C yang menjengkelkan, di gereja.” Hampir semua orang pernah mengalami hal ini…..tapi tunggu dulu, tidak semua…..ada yang tidak…..
    “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush”. Bil 12:1, Dapat dipastikan bahwa peristiwa ini bukan terjadi pada hari Sabat, namun dampaknya mungkin saja terasa sampai pada hari Sabat di minggu itu, bahkan bermula dari peristiwa inilah berbagai masalah perpecahan terjadi di kemudian hari atas sebuah bangsa yang sementara dibentuk. Mulanya ini hanya terjadi pada tingkat internal keluarga saja, diantara para “elit”, para “petinggi”sebuah bangsa, namun akhirnya dampaknya meluas di waktu-waktu kemudian. Membutuhkan kesabaran Ilahi untuk mengatasi akan hal ini….
    Marilah kita mencoba membayangkan pada Sabat itu, setelah peristiwa diatas terjadi. ketika semua mereka hendak menyucikan Sabat, Perasaan apa yang ada dalam benak mereka satu dengan yang lain? adakah perasaan bahagia, sukacita dan gembira diantara mereka? Khususnya di rumah Keluarga Musa, Ketika mungkin Gersom, anak Musa yang tertua bertanya pada papanya, “papa, kok tega-teganya tante Miriam mengata-ngatai papa tentang mama seperti itu sih?” (walaupun ada sedikit perdebatan dikalangan teologian tentang apakah itu benar Ziporah, istri Musa yang dimaksud, namun kita tetap berasumsi itu adalah Ziporah ibu dari Gersom serta adiknya, dan istri Musa). “Dia kan saudarinya papa…”, “Kok om Harun bukannya bela papa, malah menambah-nambah masalah”. Lalu percakapan ini didengar oleh Zipora sang istri yang sementara menyiapkan makanan untuk Sabat besok, bayangkan Zipora saat itu terisak-isak menangis sambil menahan emosinya untuk tidak meluap, dan Musa yang sementara menyiapkan khotbah untuk esoknya, bingung harus bagaimana mengatasi perasaan hati istrinya yang luka, dan menjawab pertanyaan anaknya yang polos itu. Rasanya acara pembukaan Sabat itu menjadi kesedihan bagi keluarga ini. Setiap orang tidak mau dirinya dikata-katai, diomongin apalagi dibuat tersudut, tidak enak rasanya, tapi Musa mengalami akan hal ini pada waktu itu.
    Mudah saja bagi seorang Musa untuk membalas sikap ini. Otoritas, pengaruh dan kekuatan ada ditangannya. Tapi itu tidak pernah terjadi dan mustahil dilakukan oleh seorang Musa. Alkitab memberi alasannya untuk hal ini, “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (ay 3). Suatu karakter refleksi dari kedekatannya dengan Pencipta. Tidak mungkin seseorang bertahan dengan emosinya yang terkendali seperti ini, kecuali ia memiliki hubungan khusus dengan ALLAH, atau sebaliknya, hanya orang yang memiliki hubungan dengan ALLAH secara pribadi yang boleh menahan diri secara emosi untuk tidak membalas perbuatan orang lain yang melukai perasaannya. Seseorang bisa saja bertahan ketika dia kehilangan harta, bisa tenang ketika kehilangan jabatan, bisa mengendalikan perasaannya ketika orang yang dicintai meninggalkannya, namun terkadang akan tidak bisa terkendali secara emosi, bilamana itu menyangkut harga diri. Perang sering terjadi hanya karena masalah harga diri, pembunuhan kadang tak terelakan hanya karena masalah harga diri, perkelahian tidak bisa dilerai, hanya karena menyangkut harga diri. Sering harga diri melebihi segala-galanya, dan patut dipertahankan dengan cara apapun. Harga diri, atau dalam bahasa Inggris menyebutnya “dignity”, melebihi apapun. Dan apa yang terjadi pada Musa dan keluarganya adalah menyangkut dignity.
    Namun respons Musa atas masalah ini jauh diluar kebiasaan lazim manusia pada umumnya dalam menyelesaikan masalah-msalah menyangkut dignity atau harga diri, atau martabat. Mengherankan, mengagumkan, dan luar biasa. ““Kok bisa yah, dia berlaku seperti itu?”, itu pertanyaan kita terhadap Musa, tapi pernyataan Allah tentang Musa berbeda. Sebuah kekaguman yang langsung keluar dari mulut Allah terhadap Musa, “hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN” (ay 7,8). Sebuah Anthropomorphism dari tradisi Yahwist melukiskan, “Musa adalah seorang yang diijinkan untuk melihat, bentuk dari ALLAH”. Luar biasa, namun demikian Allah tidak pernah akan bisa ditemui Musa jika dia memiliki hati ingin membalas.
    Pada pasal ini, memang terlihat intervensi langsung Allah atas masalah ini, namun kalau ada yang harus dibingkai pada cerita ini, adalah pada saat ketika Musa datang kepada Tuhan secara khusus dan berdoa dengan permohonan yang khusus untuk orang yang “khusus”. ayat 13, “Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia”. Doa ini hanya berisi tujuh kata dalam bahasa Inggris atau hanya lima kata saja dalam bahasa Ibrani (termasuk kata, “Please” disebutkan sampai dua kali). Doa ini kelihatan sederhana dan biasa tapi tidak sesederhana dan biasa bila dilihat dalam kasus yang terjadi terhadap Musa atau dalam konteks mendoakan bagi mereka yang kita tahu dengan jelas membenci kita, telah menyakiti hati kita, membuat perasaan kita luka, mempermalukan kita dibanyak orang, tapi inilah yang dilakukan Musa bagi Miriam, kakaknya, saudari kandungnya sekaligus orang yang telah menyakitinya. “And Moses cried to the Lord, “O God, please heal her – please” (ESV). Kata-kata yang tidak sekedar basa-basi, formalitas, dan omong kosong, tapi sangat tulus dari seorang yang sangat lemah lembut dan tulus hati itu, bahkan Miriam sendiri mungkin tidak pernah tahu apa yang dilakukan saudaranya ini. Tetapi ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah, karena tidak mudah melakukannya kecuali dituntun olehNYA. Musa dekat dengan Allah, dan itu tercermin melalui sikapnya, “Love your enemies: do good to them that hate you: and pray for them that persecute and calumniate you” Mat 5:44 (Rheims New Testament). Sebuah teori tentang, cintailah “mereka yang membencimu” disertai aplikasinya/praktektnya, doakan dia. Sulit melaksanakannya kecuali ada hubungan dekat diantara kita dengan sipembuat teori ini. Inilah salah satu doa yang terbaik yang pernah dilakukan oleh Musa dan patut dikenang sepanjang masa dilihat dari konteks masalah yang terjadi terhadap Musa saat itu, melebihi doanya memohon laut untuk terbelah, melebihi doanya untuk mujizat-mujizat dasyat yang pernah terjadi pada orang Israel. Doa memohon berkat untuk orang yang telah menyakiti hatinya dan keluarganya.
    Sabat itu akhirnya tetap menjadi hari yang senang, hari kesukaan bagi Musa dan keluarganya. Karena Musa menyadari betapa dia sangat mencintai Kakaknya, saudari sekandungnya dan berdoa untuknya, gantinya membenci serta membalas perbuatan Miriam, itu bagiannya, sementara Allah mengurus bagianNYA sendiri untuk Miriam.
    Ketika pembukaan Sabat diadakan dirumah Musa, lirik, “Sabat hari yang senang, hari snang, hari snang….”, terdengar dengan begitu riang dan indah melantun dari tenda Keluarga Musa dan dinyanyikan oleh seluruh anggota keluarganya dengan gembira karena Musa dipenuhi perasaan memaafkan, serta mengasihi orang yang membencinya. Bagi Musa dan keluarganya, besok tatkala bertemu Miriam di gereja, bukanlah masalah lagi yang harus dipikirkan, mereka tenang dan enjoy Sabat itu. Musa sangat menikmati tidak hanya pada Sabat itu tetapi sepanjang hidupnya. Musa pernah merasakannya, mengapa kita tidak pada Sabat ini? Tuhan memberkati kita semua, selamat Sabat.

    Oleh : Pdt. Raymond Lohonauman

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles