Date:

    Share:

    DUA PENGUASA BEREBUT KEKUASAAN

    Related Articles

    Dalam beberapa hari terakhir ini kita di Indonesia diramaikan dengan berita perebutan kekuasaan antara Polisi dan KPK atas sangkaan korupsi kepada individu dari institusi Polri, perihal pengadaan simulator SIM. Masing-masing pihak merasa paling berhak menyidik kasus ini. Para pakar bermunculan dengan macam-macam pendapat, dan terlihat waktu salah satu TV swasta menayangkan Indonesia Lawyer Club, beragam pendapat muncul. Ada yang bilang Polri berhak, ada juga mengatakan KPK berhak sesuai UU anti korupsi. Hasilnya belum diketahui karena masing-masing pihak maju sendiri-sendiri mengusut kasus ini.
    Perebutan kekuasaan tidak hanya terjadi dalam dunia hukum, melainkan rohani juga terjadi. Seperti kita ketahui, bahwa di dunia ini muncul dua kekuasaan untuk memperebutkan umat manusia, sejak dicampakkannya Lucifer dari Surga dan lari ke dunia menggoda manusia dan jatulah manusia itu ke dalam dosa. Tuhan Yesus, tidak tinggal diam. Dia lantas menerima utusan Tuhan untuk datang ke dalam dunia (Yoh. 3:16), menyerupai manusia agar manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa yang merupakan kemenangan Lucifer, kembali dapat datang kepada Tuhan untuk memperoleh keselamatan.
    Dua penguasa ini sebenarnya menawarkan hal yang sama tapi “ending” beda. Si Luci alias setan, menawarkan kenikmatan dunia, sementara Yesus menawarkan kenikmatan di dunia akhirat. Bedanya, setan jangka pendek dan bisa langsung dinikmati tetapi berakhir di apa neraka, sementara Yesus jangka panjang dan baru bisa dinikmati setelah kedatangan-Nya yang kedua kali. Selain itu bedanya kasus simulator SIM dengan Setan dan Yesus, adalah kalau Polisi dan KPK tidak akan melepaskan dari tuntutan hukum, sama seperti Setan, sementara Yesus menjajikan kelepasan dari tuntutan hukuman dosa. Hanya satu syarat, yaitu bertobat dan datang kepada Yesus sebagaimana engkau ada.
    Jika para tersangka di kasus simulator SIM tidak bisa memilih untuk disidik oleh pihak mana, maka pada umat manusia, kita mempunyai hak untuk memilih kepada siapa kita mau berpaling. Banyak contoh dalam Alkitab dimana manusia memilih Tuhan dan selamat. Kita sebut misalnya dalam Yosua 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”. Yosua dan seisi rumahnya memilih Tuhan. Sadrak, Mesak dan Abednego, tetap memilih Tuhan daripada menyembah patung, walaupun harus berakhir di dalam dapur api yang menyala-nyalah, dan akhirnya menang. Di seantero Alkitab banyak contoh yang dapat kita jadikan pelajaran dan pertimbangan untuk menentukan pilihan.

    Biarlah nats ini Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?, menjadi salah satu sukacita kita karena Alla sendiri yang berkorban untuk kita dan menjadi pertimbangan utama kenapa memilih Yesus.

    Karena engkau sudah memilih dan sudah diterima oleh Yesus, jangan pernah lepaskan pilihan itu, apapun yang terjadi, baik susah maupun senang. Ingat “happy ending”.

    Oleh : Bpk. Yoshen Danun

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles