Date:

    Share:

    BEJANA TERINDAH

    Related Articles

    Ada seorang pria sedang mencari sebuah bejana untuk tempat menyimpan barang berharga. Ada beberapa pedagang yang menjual bejana, manakah yang akan terpilih?

    “Pilihlah bejana saya,” teriak penjual yang menjual bejana dari Emas, “bejana saya mengkilap dan bercahaya. Bejana saya sangat berharga dan dibuat dengan benar, ditempa dengan keras dan sungguh-sungguh murni. Keindahan bejana saya mengalahkan yang lain. Untuk orang yang seperti engkau, Tuanku, bejana emas adalah yang terbaik!”

    Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia kemudian melihat suatu bejana Perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani Engkau, Tuanku, Garis-garis bejanaku sangat indah, ukirannya sangat nyata, dan bejana perakku akan selalu membanggakanmu.”

    Tuan itu hanya lewat dan menemukan sebuah bejana Tembaga. Bejana ini mulutnya lebar dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini!” teriak pemilik bejana itu, “saya tahu bejana saya akan terpilih. Taruhlah bejana saya di meja-mu, maka semua orang akan memandangmu dengan kagum.”

    Tiba-tiba, “Lihatlah bejana saya”, panggil pemilik bejana Kristal yang bejananya sangat jernih dengan beberapa detail ukuran yang sangat rumit. “Bejanaku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya bejanaku. Meskipun mudah pecah, namun sangat membanggakan karena sangat indah.

    Kemudian, tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat, kosong dan hancur, tak berwarna indah, dan terbaring begitu saja. Tiada harapan terpilih sebagai bejana tuan itu.

    Ah! Inilah bejana yang aku cari, akan kuperbaiki dan kupakai, akan kubuat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak butuh bejana mengkilap dan penuh kebanggaan, terlalu tinggi untuk ditaruh di rak, transparan dan memamerkan isinya dengan sombong. Bejana yang kucari adalah bejana sederhana yang akan kupenuhi dengan berbagai barang berharga.

    Kemudian, ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki, membersihkan dan memenuhinya dengan berbagai barang berharga.
    .
    Inspirasi
    Untuk Direnungkan : Pernahkan Anda bercermin dan kemudian melihat banyak kelemahan di sana sini? Apa reaksi anda? Apakah Anda menyalahkan orang tua yang melahirkan Anda? Menyalahkan diri Anda sendiri? Atau bahkan menyalahkan Tuhan? Bagaimana jika kita mengalihkan pandangan kita dari diri kita sendiri ke Sang Pencipta dan menyerahkan semua keberadaan kita apa adanya ke dalam tangan-Nya! Bukankah dia yang sanggup mengubah, memulihkan dan mengisi kita?

    Untuk Dilakukan : “ Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4 : 7

    Dunia sering kali menipu kita dengan mengalihkan mata kita kepada kemasan ketimbang isi. Janganlah memandang rupa luar karena belum tentu dalamnya sama dengan luarnya. Seringkali kita dalam hidup ini lebih percaya kepada yang nampak dari luar apakah parasnya, pangkatnya, penampilannya, kedudukannya, hartanya, ketenarannya, dan kita lupa apa yang didalamnya. Tidak sedikit orang yang menjadi korban karena mempercayai rupa luar saja, cepat percaya, cepat yakin dan cepat mengambil keputusan. Untuk itu kita diberi nasihat lewat pesan moral cerita diatas yaitu biarlahlah kita memandang bagian dalam atau isinya, seringkali isi itu memerlukan waktu yang lama untuk kita dapat mengetahuinya, tetapi jika kita sabar dengan waktu dan berpusat kepada masa depan niscaya akan tiba waktunya kita mengetahui sebenarnya apa yang benar dan cocok dengan luar. Untuk meraih keberhasilan belajarlah menggunakan waktu didalam memilih, memutuskan sebelum melangkah. Dan yang terpenting berdoalah selalu sebelum memutuskan apa yang anda butuhkan. “Jangan pandang rupa luar”

    Oleh : Bredly Sampouw

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles