Date:

    Share:

    BAIK-BAIK & SEHAT-SEHAT

    Related Articles

    eadaan sehat dan baik-baik adalah dambaan semua orang. Keadaan ini menggambarkan keadaan orang yang merdeka. Bebas dari penyakit yang merongrong tubuh manusia dan juga tekanan dari luar yang dapat mempengaruhi kebebasan seseorang. Mungkin saja seseorang itu mempunyai tubuh yang sehat tapi maaf, bila dia lagi kena cekal atau jadi penghuni penjara maka keberadaannya dibawah tekanan. Dia bukan berada dalam keadaan baik-baik. ‘Semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja …’, ungkapan yang sering kita sampaikan ataupun biasa kita dengar dari orang lain yang mengutip salam Rasul Johanes, 1 Joh 3:2. Benar, tetap sehat atau menjadi sehat adalah dambaan semua orang walau kadang makna sehat jadi lebih terasa dan dibutuhkan bila sudah menderita sakit.

    Memang ketika indikator umum seperti menjanjikan: Makan masih berselera, tidak ada keluhan yang mengganggu, tekanan darah normal, berat badan berimbang tinggi, buang air teratur, semuanya lancar maka siapa peduli memeriksa kesehatan? Malah keadaan seperti ini menjadi kebanggaan yang disampai-sampaikan “Dari dulu saya jarang sakit, saya hampir tidak pernah ke dokter apalagi nginap di Rumah Sakit”. Kalimat yang sering kita dengar, tapi ternyata pemeriksaan itu dilakukan tahun yang lalu. Padahal dengan meningkatnya umur, perubahan dapat terjadi setiap saat. Sehat di bulan kemarin bukan berarti sudah aman sepanjang tahun. Itu sebabnya pertimbangan menjaga dan memeriksakan kesehatan secara berkala adalah langkah bijaksana. Jangan ke dokter hanya nanti ketika sakit seperti umumnya dilalaikan banyak orang.

    Konsultasi dengan dokter ketika sehat justru sangat bermamfaat. Secara teratur perlu diadakan pemeriksaan kesehatan dengan mempertimbangkan faktor umur. Lebih berumur perlu lebih sering mengadakan physical check-up. Menunggu sampai dua tahun baru memeriksakan kesehatan mungkin sudah kelamaan. Selanjutnya perlu pro-aktif terhadap hasil pemeriksaan laboratory dengan tidak mempersalahkan kehidupan diwaktu lalu. Tapi mengambil langkah tanggung jawab mengatasi keadaan dan dan membuat perubahan menuju sehat.

    Hal yang berhubungan dengan soal kesehatan janganlah ditunda-tunda. Gejala pertama yang muncul perlu disikapi secara serius. Lebih dini suatu penyakit terdeteksi akan lebih mudah mengatasinya, malah mencegah lebih baik daripada mengobati. Semuanya terpulang juga kepada diri masing-masing. Terlepas dari hal-hal diluar kontrol manusia, gaya hidup seseorang yang berpusat pada ‘menahan diri’ mengambil peran yang sangat besar.

    Sadar maupun tidak, banyak orang menggali kuburan sendiri dengan sendok dan garpu ‘apa dibeta itu diboko – santap saja apa yang terhidang’. Karena makanan enak ditunjang suasana gembira – ah pinjam hari dulu lalu makanan dikomsumsi tanpa perhitungan kadar lemak, kadar garam, kadar gula dan takaran yang moderate.

    Adalah benar ungkapan yang mengatakan ‘tetap prima dan sehat di 40 tahun pertama dalam kehidupan menjadi modal kesehatan pada paruh kedua 40 tahun berikutnya’. Kenapa? Boleh jadi anda tidak sakit sampai umur empat puluhan tetapi setelah itu adalah masa penuaian. Karena kolestrol jelek telah menumpuk, triglycerides terakumulasi melewati ambang, blood pressure lepas control naik turun seperti yoyo yang semuanya ini sangat membahayakan tubuh secara tiba-tiba (50% kematian, coronary artery disease adalah berhubungan dengan high blood cholesterol). Belum lagi ‘pabrik gula’ ditubuh yang tidak mau kompromi. Semua ini umumnya adalah ‘alhasil’ dari selera makan yang diumbar dan menyepelekan pertarakan. Bila hidup teratur, makanan dikontrol dan dekat dengan Tuhan maka melampaui umur 80 an tahun bukanlah suatu ilusi.

    Ibarat mobil, memasuki usia pertengahan roda kecepatan perlu disesuaikan dengan hati-hati. Ambil yang mudah saja untuk dilakukan, 30 minutes regular aerobic berupa walking, jogging, biking, swimming akan meningkatkan good cholesterol serta mengurangi resiko heart disease serta menjadikan tubuh lebih bugar. Mengenai soal makanan, apa masih gemar fast food, ayam goreng, coto makasar serta makanan berlabur minyak/fat lainnya?. Memang enak makanan berlemak, bergaram dan bergula tapi jika lepas kontrol resikonya berat. Makan secukupnya tidaklah dihitung dari jumlah piring. Juga bukan dilihat dari sudah keringat atau tidak ketika makan – dibeberapa orang makannya berkeringat tapi kerjanya tidak. Ujar bijaksana soal jumlah makanan yang dikomsumsi mengatakan ‘makanlah bukan untuk kenyang tapi supaya tidak lapar’. Hal ini benar, toh kehidupan kita bukanlah untuk makan tapi makan supaya hidup. Ungkapan lainnya menjadi warning untuk menurunkan berat badan ‘lebih pendek ikat pinggang akan lebih panjang umur, lebih panjang ikat pinggang lebih pendek umurnya’.

    Bila kendali selera masih sering bobol, ingat bahwa makanan lezat itu penipu adanya. Kalau nafsu besar untuk makan masih menggelora, air liur mondar mandir kesana kemari melihat ice cream juga ayam minang, ikan mas woku diwoka, apa boleh buat, ambil pisau taruh dileher seperti yang dinasihatkan buku Amsal 23:2,3.

    Memeriksa kesehatan secara berkala, mengkomsumsi makanan sehat sesuai kebutuhan, olahraga secukupnya, minum air yang diperlukan dll ditambah dengan kedekatan dengan Tuhan kiranya menjadikan kita sehat dan berbahagia.

    Oleh : Pdt. Moldy Mambu

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles