Date:

    Share:

    BAHAYA DARI SPIRITUALITAS KONVERGEN

    Related Articles

    Akhir akhir ini saya menerima beberapa email dan pesan singkat dari kerabat, saudara, dan orang orang yang prihatin tentang kepastian keselamatan mereka. Sepertinya mereka menjadi tidak yakin akan jaminan keselamatan yang mereka miliki di dalam Kristus. Setelah saya berusaha mempelajari semakin dalam akan alasan mereka tidak yakin lagi akan keselamatan mereka, kebanyakan dari ketidakyakinan ini mulai muncul setelah mereka mengikuti kamp2 tertentu dan mendengar dari pembicara pembicara tertentu tentang keselamatan yang sepertinya sangat mudah hilang oleh karena tindakan tindakan tertentu.

    Salah seorang yang menghubungi saya malah bertanya “Saya dengar kalau kita ini tidak vegan, maka kita tidak bisa memahami Firman Tuhan dengan benar?” dan yang lain malah mengatakan “Kalau kita tidak vegetarian maka kita tidak bisa masuk Sorga?” dan masih banyak lagi pertanyaan2 yang masih berhubungan dengan hubungan antara pekerjaan dan keselamatan.

    Di selang waktu yang sama, saya memperoleh banyak email milis yang masuk tentang kontroversi “ministry” tertentu di Indonesia yang marak menekankan keselamatan berdasarkan perbuatan kita. Bahkan sebagian dari “ministry” ini memberikan impresi yang buruk tentang kepemimpinan Gereja, perilaku korup dari hamba Tuhan (khususnya mereka yang belum vegetarian) dan bahkan memanggil Gereja Advent sebagai gereja yang sudah murtad (apostate)

    Tentu saja hal hal ini menimbulkan pertanyaan pribadi dalam diri saya.Apakah keselamatan kita sangatlah rawan sehingga satu tindakan yang salah saja bisa membuat kita kehilangan keselamatan itu?Apakah arti seorang “umat sisa” yang sebenarnya?Apakah pergerakan Adventist telah salah jalur dan menjadi murtad?

    Saya percaya ada banyak pakar pakar Alkitab dan cendekiawan theologia kita yang sanggup memberikan jawaban yang lebih mendalam akan pertanyaan di atas. Tulisan saya disini hanyalah pandangan pribadi saya dan satu-satunya motif saya dalam membahagikannya di BAIT hanyalah dengan harapan bahkan mungkin ada yang akan dikuatkan dengan apa yang saya tuliskan disini.

    Di dalam ilmu Fisika saya mengingat pelajaran SMA dulu tentang lensa konvergen. Lensa Konvergen, adalah lensa dimana setiap cahaya yang melalui lensa tersebut akan dipusatkan di satu titik. Di sisi lain kita mengenal apa yang dikenal dengan lensa divergen, dimana cahaya yang melewati titik tersebut akan disebar ke titik yang lain.

    Seringkali dalam kehidupan kristiani, banyak dari kita yang sepertinya cenderung memiliki spiritualitas yang konvergen. Kita sering berfokus pada hanya satu aspek kerohanian, dan seringkali meninggalkan aspek aspek yang lain. Sebagai umat Advent fokus ini seringkali disetarakan dengan pola hidup, dan kalau mau lebih fokus lagi, pola hidup ini seringkali berhubungan dengan apa yang Advent boleh buat, dan apa yang Adventist tidak boleh buat. Dan kalau mau lebih lebih dan lebih fokus lagi, apakah anda Adventist Vegan, atau Adventist Karnivorus?

    Ada banyak resiko yang berbahaya dari spiritualitas yang konvergen seperti ini.Yang paling mendasar adalah kita mulai berpikir bahwa keselamatan itu bergantung kepada perilaku kita.Khususnya perilaku2 terntentu. Di dalam pikiran bawah sadar kita, kita mulai merasa risau akankeselamatan kita seakan akan perbuatan kitalah yang menjadi tiket ke dalam kerajaan Surga. Sekalipun jelas bahwa “sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;itu bukan hasil perbuatanmu sendiri melainkan pemberian Allah” (Ef 2:8) Akan tetapi sayang sekali masih banyak umat – umat Allah yang mempratikkan keselamatan oleh karena perbuatan dan bukan oleh karena kasih karunia.

    Keselamatan haruslah merupakan pemberian Cuma-Cuma,dengan hanya satu syarat yaitu iman kepada Kristus. Iman inilah yang memberikan jaminan kepada keselamatan, dan bukan perbuatan.

    Lalu mengapa masih banyak orang yang cenderung menekankan perbuatan sebagai jaminan keselamatan?.Kita sebagai manusia dilahirkan dengan kemampuan mengobservasi dan menganalisa secara empiris.Artinya, sesuatu itu harus ada ukurannya untuk meyakinkan diri kita kepada kesimpulan tertentu.Oleh sebab itu, keselamatan kita pun seringkali kita ukurkan dengan dengan metode empiris. Kita mulai mengukur keselamatan kita dengan apa yang telah kita perbuat di dalam kehidupan ini. Dan hal hal yang sangat mudah diukurlah seringkali dengan mudah menjadi bahan ukuran kita.Adalah lebih mudah membedakan orang yang vegetarian, dengan yang bukan vegetarian.Kita hanya perlu memperhatikan jenis makanan yang mereka makan sehari hari.Tetapi tidaklah mudah untuk mengetahui hati seseorang.Seringkali kita salah menilai.Orang yang kita sangka baik, ternyata punya niat yang jahat kepada kita.Sebaliknya orang yang mungkin kita tidak sangka baik malah seringkali adalah mereka yang paling lembut dan ramah. Begitupun dengan hal hal yang lain, entah itu penampilan, atau hal hal lain yang bisa kita ukur.

    Kecenderungan kedua mengapa banyak orang menekankan perbuatan sebagai jaminan keselamatan adalah karena kita sebagai manusia ingin memiliki perasaan aman.Kita ingin segala sesuatunya terjamin.Iman seringkali tidak dapat menjadi ukuran yang meyakinkan karena iman tidak dapat diukur secara empiris.Tidak ada ukuran universal yang dapat memberikan penjelasan seberapa besar iman seseorang. Oleh karena itu, adalah lebih mudah untuk mengukur apa yang kita perbuat untuk Tuhan sebagai landasan keselamatan kita, gantinya sekedar percaya bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia. Apalagi seringkali pekabaran Adventist seakan akan memiliki efek rasa takut yang tidak punya akhir. Saya masih ingat saat saya masih kecil dan tumbuh besar di dalam gereja, saya selalu diingatkan untuk setiap dosa yang saya perbuat maka Malaikat di Sorga akan menghapus nama saya dari buku kehidupan. Saya membayangkan bahwa Surga pasti memiliki pabrik penghapus dan tinta yang sangat besar untuk mensuplai nama yang dihapus dan ditulis kembali, setiap kali semua orang berbuat dosa. Akan tetapi kemudian seiring dengan waktu dan kesempatan saya mendalami Alkitab secara formal, saya menemukan pengertian baru tentang buku kehidupan.didalam Wah 27:21 “Tetapi orang yang melakukan hal-hal yang menjijikkan, atau orang yang berdusta–singkatnya apa pun yang najis, sekali-kali tidak akan masuk ke dalamnya. Yang akan masuk hanyalah orang yang namanya tertulis dalam Buku Orang Hidup, buku Anak Domba itu.”(Wah 27:21) Di dalam bahasa Yunani (bahasa Asli buku Wahyu) Kata anak domba di dalam ayat ini didahului dengan kata sandang pasti (definite article) touyang menekankan kepemilikan dari buku kehidupan tersebut. Kristuslah yang memiliki buku itu, dan Kristuslah yang berhak menentukan nama dari mereka yang berhak ditulis di dalamnya. Kristus telah memberikan persyaratan itu dengan gamblang akan bagaimana seorang dapat diselamatkan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16) Oleh karena itu, hanyalah karena kasih karunia Kristus, bukan karena perbuatan saya maka nama saya berhak untuk ditulis di dalamnya.

    Selain dari pengertian keselamatan yang menjadi sempit, spiritualitas konvergen juga seringkali menjadi sifatnya eksklusif.Seringkali mereka yang berpikir secara konvergen seperti ini ingin memisahkan diri sepenuhnya dari lingkungan yang dianggap berdosa dan kotor, dan menyepi. Seringkali kita yang memiliki spiritualitas konvergen ini lebih senang berkelompok dengan mereka yang memiliki pandangan yang sama dan menganggap mereka yang tidak memiliki “Standard” spiritualitas yang sama sebagai pendosa dan patut dijauhi. Mereka yang tidak mendengarkan pekabaran kita sebagai “sesat” dan biasanya yang tersesat dari sesat adalah umat2 Advent yang belum hidup di dalam “standard” kita yang berpikir secara konvergen.

    Akan tetapi sangat sulit bagi saya mencari contoh Kristus tentang sifat eksklusif ini di dalam Alkitab, karena yang saya temukan adalah contoh yang sebaliknya.Kristus memberika kehidupannya untuk dapat menjangkau segala golongan dan keadaan tanpa harus menekankan standardnya terlebih dahulu. Di dalam kehidupannya, Kristus menghabiskan waktunya dengan makan2, datang ke pesta, bergaul dengan pelacur dan kriminil, dan bahkan mengecam mereka yang berusaha hidup lebih suci dari orang lain seperti golongan Farisi. Dan tindakan Yesus bukanlah sekedar “pencitraan” semata akan tetapi didasarkan pada rasa empati dan simpati yang luar biasa karena tahu orang orang ini adalah orang orang yang “Sesat” Kristus menjangkau orang seluas mungkin, dan mencari mereka di mana mereka berada. Bagi dia lebih banyak yang diselamatkan adalah lebih baik.Jesus lebih bersifat inklusif gantinya eksklusif.

    Pemahaman yang sama adalah yang sepatutnya menjadi bagian kita umat umat yang mengaku sebagai pengikut kristus. Mungkin ada baiknya kita lebih memahami apa yang Paulus katakan “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:3, 4) Kata semua orang disana tidaklah ditulis hanya sebagai ungkapan tanpa arti tetapi menekankan motif dari Tuhan kita.Dia mau kalau bisa semua orang bisa selamat.Untuk dapat memberikan kesempatan agar banyak orang bisa selamat, maka Tuhan tidak dapat menetapkan sebuah standard yang sangat eksklusif. Bilamana seseorang ingin agar semua orang selamat maka dia akan melakukan apa saja yang perlu untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin orang orang untuk dapat diselamatkan. Kristus menawarkan perjalanan seharga tiket Air Asia untuk terbang dengan pelayanan Singapore Airlines.

    Hal terakhir yang menjadi batu sandungan bagi kita yang memiliki spiritualitas konvergen, kita terlalu berfokus kepada satu hal sampai sampai hal yang penting lainnya kita abaikan. Di dalam istilah bahasa Inggris dikenal sebuah ungkapan “majoring in the minor is equally evil with minoring the major” yang bisa diterjemahkan sebagai “membesar-besarkan yang kecil adalah sama jahatnya seperti mengecilkan perkara yang besar” Terkadang oleh karena fokus kita kepada sesuatu yang kita anggap penting, kita tidak lagi sadar kalau hal penting lainnya kita tidak perbuat.

    Seringkali saat saya harus melawat bekas anggota Advent yang sudah tidak lagi mengikuti Adventist, pernyataan mereka berhenti mengikuti Advent bukanlah karena mereka tidak percaya akan kebenaran Pekabaran 3 Malaikat, atau tentang Sabat. Akan tetapi seringkali alasan mereka meninggalkan komunitas Adventist adalah karena mereka merasa muak dengan standard ganda yang mereka klaim sangat kental dengan teman2 Adventist yang mereka temui. Banyak dari orang Advent (berdasarkan klaim mereka) mampu bertarak tidak makan daging, tapi tidak mampu bertarak dalam menahan nafsu mereka berkata2 buruk, bergosip, dan menjelekkan orang lain di belakang mereka. Banyak orang Advent menguduskan Sabat dengan setia dan tidak bekerja, tetapi tidak menguduskan pekerjaan mereka dengan berlaku tidak jujur, memalsukan dokumen, menyuap, menerima gratifikasi, tidak transparan, dan tindakan dosa lainnya.

    Kita juga mulai menerapkan standard spiritualitas konvergen kita kepada orang lain seperti itulah hukum yang baku yang harus diterapkan kepada setiap orang yang kita temui. Karena kita sanggup melakukan sesuatu yang benar di dalam standard kita, kita seringkali punya kecenderungan untuk memaksa orang lain untuk hidup dalam standard yang sama tanpa memandang situasi dari orang itu sendiri. Karena saya sudah vegetarian, maka mereka yang tidak adalah “sesat” karena standard saya.Bilamana kita melihat contoh kristus, praktek itu sepertinya tidaklah yang Yesus lakukan.Yesus tidak melakukan restorasi “pukul rata” kepada orang orang yang dia temui. Alkitab menuliskan “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Mat 11:5 Untuk setiap tantangan yang orang tersebut jalani, Yesus memberikan jalan keluar yang spesifik kepada mereka. Alkitab tidak menuliskan bahwa hasil kesembuhan Kristus adalah yang buta dapat berjalan, atau yang tuli dapat melihat, atau yang menderita kusta dapat berbicara.Perjalanan spiritualitas setiap orangpun adalah sangat beragam, dan kita tidak dapat menghakimi spiritualitas seseorang hanya oleh karena dia tidak menghadapi apa yang saya hadapi, atau memenangkan cobaan yang kita menangkan. Hanyalah Kristus yang sanggup menganalisa secara akurat keadaan spiritualitas seseorang dan bilamana diberikan kesempatan untuk menjadi kabar terang itu, kita hanyalah dapat menjalakannya dengan kasih karunia dan bukan oleh karena kekuatan kita.

    Sebelum saya menutup tulisan saya, saya hanya ingin meluruskan apabila ada yang membaca artikel ini dan menyimpulkan bahwa saya adalah “anti-vegetarianisme” atau golongan liberal.Dengan tanpa motifasi menyombongkan diri, saya dan istri saya telah menyingkirkan daging dari meja makan kami (mengutip ungkapan Ny.White) untuk beberapa tahun lamanya. Kami berusaha hidup sehat dan istri saya adalah seorang yang gemar mengikuti even lari, mulai dari tingkat 10KM, Half Marathon, sampai Full Marathon (42KM). Tidak mudah untuk mencapai semua ini, dan lebih tidak mudah lagi untuk mempertahankannya.Hanyalah kasih karunia Tuhan yang menyanggupkan kami untuk menjalankannya.

    Oleh karena itu, motivasi tulisan saya hanyalah karena saya berharap bahwa kita semua mungkin dapat mencoba merefleksikan hidup kita bukan secara divergen, maupun konvergen. Namun lebih pentingnya kita refleksikan hidup kita berdasarkan lensa Kristus yang didasari oleh kasih, kemurahan, kerendahan hati, dan kebaikan. Tanpa Kristus, maka sia-sialah semuanya. Tanpa kristus maka kita tidak dapat melihat apapun dalam kehidupan ini sebagai kristus melihatnya. Dan kalau kita benar benar rindu menjadi pengikutnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempraktekkan cara dia hidup kepada kehidupan kita sendiri.

    Oleh Pdt. Bayu Kaumpungan

    Previous articleMENGHARGAI
    Next articleBEJANA TERINDAH

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles