Date:

    Share:

    AKUKAH PENJAGA ADIKKU?

    Related Articles

    Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini merupakan jawaban Kain ketika Tuhan bertanya langsung kepadanya, “Di manakah adikmu?”. Pertanyaan ini juga merupakan penyataan sikap Kain yang “cuci tangan” alias tidak mau tahu bahkan keberatan ketika Allah menuntut tanggung-jawabnya karena telah menghilangkan nyawa adiknya, Habel. Kain mewakili golongan orang di dunia ini yang tidak mau tahu tentang keberadaan orang lain.

    Seorang yang pernah masuk sepuluh besar terkaya dunia di era presiden AS Bill Clinton, pernah mengisahkan riwayat hidupnya yang dulu tidak mau tahu dengan para pegawainya atau dengan orang yang bekerja mengurus rumahya, yang membantunya sehari-hari. Namun semuanya berubah ketika dia berada dalam posisi tidak berdaya dan sangat membutuhkan kehadiran orang lain. Pemilik Siloam Hospital dan persekolahan Pelita Harapan juga CEO LIPPO Group itu kini berubah ‘care’ kepada orang lain. Dia bahkan mengisahkan bahwa urusan kesehatan para pembantunya juga merupakan urusannya.

    Di sekitar kita ada adik, kakak, saudara, orang tua, suami bahkan isteri ataupun jemaat dan tetangga yang menuntut tanggung-jawab kita untuk diperhatikan, dipedulikan. Ada juga orang-orang di pinggir jalan, orang-orang asing yang tiba-tiba muncul di hadapan kita dan ‘menuntut’ perhatian kita. Di sekitar kita ada banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan kepedulian, yang haus dan lapar akan kebenaran. Bagaimana mengetahuinya? Bisa saja kita salah jika melalukan ‘tebang pilih’. Cara satu-satunya yaitulah dengan mempedulikan. Kita harus rela untuk peduli, tanpa syarat.

    Pendeta Noldy Sakul dalam khotbahnya saat komitment Pola Hidup Terintegrasi (IEL) mengungkapkan bahwa penginjilan merupakan darah Kekristenan. Darah berarti kehidupan. Tanpa darah, tidak ada kehidupan. Tanpa penginjilan kehidupan Kekristenan akan mati. Sebagai pengikut Yesus, penginjilan merupakan bagian dari hidup kita. Lawan memenangkan jiwa supaya surga penuh sesak yakni bekerjasama meniadakan jiwa supaya neraka penuh sesak. Umat Tuhan harus rela menanggung jiwa.

    Memenangkan jiwa itu gampang. Yang penting kita mau dulu. Pendeta Jantje Tumalun dengan konsep penarikan jiwa UPMJK, mengungkapkan langkah-langkah memenangkan jiwa sebagaimana yang terurai dalam Matius 4:19. Kita perlu renungkan ketiga kenyataan ini: (1) Pekerjaan memenangkan jiwa itu sudah kewajiban saya; (2) Kemampuan menarik jiwa itu ada di dalam diri saya karena Tuhanlah yang memampukan; (3) Saya rela memenangkan jiwa karena menghargai pengorbanan Yesus.

    Langkah-langkah penarikan jiwa itu sangat mudah. Hanya dengan tiga langkah saja, menurut Tumalun. Pertama, ucapkan setiap pagi komitmen itu. Langkah kedua: Berdoa Plus (doa sungguh-sungguh) seperti dalam Ibrani 5:7, untuk minta jiwa dari Tuhan. Allah akah menunjukkan. Langkah ketiga: Sesudah Tuhan tunjukkan siapa jiwa itu, dekati secara agresif. Nimbole hemat-hemat waktu, nimbole hemat-hemat finansil, nimbole hemat-hemat tenaga. Cara memenangkan jiwa bukan dusu-dusu kong paksa-paksa baptis. Dengan meminta dalam doa, Yesus akan menunjukkan jiwa itu seperti Nikodemus dan wanita Kanani yang datang kepada Yesus.

    Yesus berkata, “kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang.” Tuaian banyak tetapi pekerja sedikit. Saat kita giat bekerja di ladang Tuhan, kita tentu akan menjawab “Aku (memang) penjaga adikku!” jika Tuhan bertanya “Dimanakah jiwa-jiwa itu?”.

    Oleh: Ellen Manueke

    Previous articleREFLEKSI IMAN
    Next articleSUKACITA STEVANUS

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Popular Articles